maiwanews logo maiwanews
Selasa, 10 Agustus 2010
Memet


Penebangan Liar Makin Marak

4 Adm Perhutani Se-Tuban Desak Kepolisian Tuban

penebangan liarTUBAN – Tak lagi dipersenjatai, aparat Perhutani sekarang ini ibarat harimau ompong. Mereka jadi bulan-bulanan penjarah hutan dan tak berdaya. Keluhan tersebut kemarin (27/7) disampaikan jajaran petinggi Perhutani di wilayah administratif Tuban kepada Kapolres AKBP Nyoman Lastika.

Hal ini juga disampaikan langsung oleh Waka KPH Parengan, Dedy Nurhady, S.hut melalui ponselnya. Beliau mengatakan bahwa saat itu pertemuan bertajuk rapat koordinasi kapolres dan ADM se-Tuban di gedung serba guna mapolres setempat tersebut dihadiri tiga petinggi ADM Perhutani. Antara lain, ADM Jatirogo Rianto Yudi Cahyono, ADM Tuban Uud Haryadi Yogasara, dan ADM Kebonharjo Sudarwanto. Juga seluruh staf persero Perhutani di tiga wilayah itu.

Rianto Yudi yang membuka keluhan tersebut. Dia mengatakan, sejak senjata api (senpi) aparat Perhutani digudangkan, penjarahan hutan pun berlangsung secara periodik menyerbu kawasan hutan produksi. Polisi hutan juga tak lagi punya wibawa.

“Tak luput hingga sekarang pun di wilayah Pangkuan yang saya pimpin rata-rata perhari mencapai sekitar antara 10 hingga 20 batang perhari,” katanya.

Menurut dia, dalam sejumlah insiden penjarahan, pencuri kayu yang berjumlah 50 orang mendatangi pos penjagaan hutan. Di pos inilah, anak buahnya disekap tak berdaya.

Rianto menambahkan, dengan ketidakberdayaan itulah anggotanya diminta tidak melawan. ”Saya pesan kepada mereka, jangan jadi pahlawan,” kata pejabat yang dua bulan menjabat ADM KPH Perhutani Jatirogo ini.

Fakta ”pembantaian” terhadap polisi hutan juga dibeber Asper BKPH Ngulahan, KPH Jatirogo Jazuli. Menurut dia, anak buahnya beberapa kali disandera ketika para penjarah hutan ramai-ramai menebang, katanya juga melalui ponselnya saat dihubungi, Selasa, (10/08/2010)

Dalam penyanderaan tersebut, anggotanya hanya dirampas ponselnya dan tidak dianiaya sedikit pun. Setelah kayu yang dicuri dinaikkan truk, anggotanya dilepas. ”Begitu mereka mengontak dan kita minta bantuan polisi untuk mengejar kayu hasil jarahannya, sudah kabur,” kata dia yang berharap polisi bisa memperjuangkan polisi hutan kembali bersenjata.

Ditambahkan Jazuli usai pertemuan, akibat penjarahan massal dan ketidakberdayaan anggotanya yang tidak bersenjata, petak 45 RPH Ngeluh kehilangan 70 batang dan petak 33 RKPH Dikir 14 batang.

Komandan Polmob KPH Parengan, Joko Kasminto menuturkan, kebijakan direksi Perhutani untuk menggudangkan senpi membuat seluruh polisi hutan tak berdaya. Karena itu, dia meminta polisi untuk mem-back up aparat Perhutani.

Apa tanggapan polisi terhadap keluhan tersebut? AKBP Nyoman Lastika menyatakan bahwa dirinya tidak berani memperjuangkan itu. ”Saya yang hanya Kapolres tidak mungkin menentang kebijakan pemerintah pusat,” kata dia.

Nyoman hanya berjanji bersama seluruh jajarannya akan membackup pengamanan hutan. Karena itu, sebelum pertemuan bubar, dia meminta seluruh Polsek yang terbagi dalam rayon untuk koordinasi dan saling tukar nomor ponsel dengan aparat hutan di wilayahnya. Dia berharap dengan saling tukar nomor ponsel tersebut terjalin komunikasi.

”Kalau mendengar rencana penjarahan, segera hubungi anggota kami, Kami akan selalu siap membantu dalam waktu 24 jam penuh” kata dia. Memet


ARTIKEL LAINNYA

Agenda Pertama Jokowi Sebagai Presiden, Terima Kepala Negara
Kelompok Taliban Pakistan Dukung ISIS
Gedung Termegah di Tuban Diresmikan
BNN: Akil Mochtar Jadi Tersangka Kepemilikan Narkoba
Kapal AS Siapkan Misi Pemusnahan Senjata Kimia Suriah
Amar Putusan MA: TPI Kembali Jadi Milik Tutut
SBY Pimpin Peringatan Hari Pahlawan di TMP Kalibata
Presiden SBY: Demokrasi Bukan Tujuan Akhir

Politik Uang Suburkan Korupsi

cover2 300



Free counters!