Fahira Idris Apresiasi Terobosan Unpad Gratiskan Biaya Kuliah Kedokteran

maiwanews – Terobosan bidang pendidikan dilakukan Unpad (Universitas Padjajaran) dengan menggratiskan biaya kuliah mahasiswa baru program studi Sarjana Pendidikan Dokter dan Pendidikan Dokter Spesialis di Fakultas Kedokteran terhitung mulai tahun 2016. Kebijakan ini dinilai sebagai solusi konkret persoalan tenaga medis. Sejak puluhan tahun lalu di Indonesia masih terjadi kekurangan dan ketidakmerataan dokter. Dengan adanya pemerataan dan ketersediaan dokter maka derajat kesehatan rakyat Indonesia akan Meroket.

Kebijakan ini menurut Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris mengingatkan pada gerakan para dokter Stovia dahulu sebagai motor kebangkitan nasional. “Kodratnya kampus memang jadi agen perubahan, jadi solusi bangsa dan Unpad meneguhkan peran itu lagi. Kami sangat salut dan mengapresiasi. Ini solusi konkret kekurangan dan ketidakmerataan dokter yang sudah akut dan menahun tanpa solusi konkret dari negara”, ujar Fahira Idris di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Kamis 28 Januari.

Kekurangan dan ketidakmerataan tenaga dokter dan dokter spesialis merupakan salah satu persoalan serius dunia kesehatan di Indonesia. Hal itu disebabkan salah satunya karena mahalnya biaya kuliah di fakultas kedokteran. Tingginya biaya kuliah secara tidak langsung juga disinyalir punya pengaruh terhadap kualitas moral dan profesionalisme dokter, salah satunya enggan bertugas di tempat terpencil. Demikian disampaikan Fahira, dimana salah satu lingkup tugasnya adalah pengawasan bidang kesehatan.

Berbagai program pemerintah bidang kesehatan seperti BPJS dan JKN dianggap sulit untuk berhasil jika tenaga kesehatan terutama dokter dan dokter spesialis tidak tersedia. Ketersedian tenaga kesehatan merupakan kunci keberhasilan program-program tersebut. Karena itu, Fahira menilai biaya kuliah gratis jadi solusi untuk meretas semua persoalan tenaga kesehatan.

Lebih lanjut Fahira mengemukakan bahwa jika semua perguruan tinggi di indonesia menerapkan skema kuliah kedokteran gratis sebagaimana dilakukan Unpad, rasio jumlah penduduk dengan tenaga medis akan seimbang. Dengan demikian Fahira optimis dalam 10 tahun ke depan derajat kesehatan rakyat Indonesia akan “meroket”. Banyak anak Indonesia memiliki potensi dan keinginan besar menjadi dokter, tapi terhambat masalah mahalnya biaya kuliah.

Saat ini di Indonesia 3 dokter harus melayani 10 ribu penduduk, beda jauh dengan Malaysia di mana 9 dokter melayani 10 ribu penduduk. dari segi pemerataan, 50 persen dokter ada di Jawa dan Bali. (m011)