Hong Kong Pertimbangkan RUU Perdagangan Manusia

maiwanews – Setelah bertahun-tahun kritik lokal, internasiona, dan yudisial, legislatif Hong Kong mempertimbangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk menghentikan perdagangan manusia agar tidak terjadi penyalahgunaan pekerja migran dan lokal. Rancangannya akan membentuk komisioner untuk menyelidiki dan mengadili kasus perbudakan dan perdagangan manusia. Kantor komisioner juga melakukan penelitian dan berkoordinasi dengan lembaga internasional terkait korban perdagangan manusia.

RUU ini akan dibahas pada 4 Mei di panel kemananan legislatif dimana anggotanya memperdebatkan kebijakan. Hal itu akan menjadi langkah awal, namun tidak memastikan draft akan berlanjut.

“Kebenaran sederhananya adalah bahwa sistem saat ini tidak memungkinkan perlindungan, penyelidikan, penuntutan, bantuan, atau reformasi efektif. Motivasi untuk mengabaikan masalah oleh pemerintah diakui: mereka ingin menjadikan HK tempat bermusuhan bagi para migran tak diinginkan”, kata Azan Marwah, salah satu penulis RUU itu.

Penyelidikan terhambat karena tanggung jawab tersebar, kata Marwah, ia mewakili seorang imigran Pakistan, keluhannya tentang pelecehan diakui tahun lalu di Pengadilan Tinggi kota. “Dalam kasus Mr. ZN, kekerasan serta masalah pembayaran dan pelanggaran imigrasi semuanya dilaporkan kepada instansi terkait, tetapi tidak satupun dari mereka menanggapi secara totalitas. Akibatnya, kasus ini tidak ditanggapi dengan serius dan tidak ada investigasi atau penuntutan”, ungkap Marwah.

Justice Centre, sebuah lembaga hak asasi manusia Hong Kong, dalam sebuah penelitian (dirilis pada tahun 2016) menemukan bahwa banyak pekerja migran di Hong Kong melaporkan bahwa sebagian besar pekerja membayar ribuan dolar masing-masing untuk mendapatkan pekerjaan di kota. Begitu tiba di Hong Kong, kebebasan dibatasi untuk bergerak dan berkomunikasi. Banyak di antaranya diminta bekerja dengan jam kerja berlebihan, mengalami kekerasan fisik atau seksual atau ancaman, dan ponsel serta dokumen perjalanan mereka disita.

Para peneliti menemukan bahwa para migran tersebut bekerja seminggu rata-rata 71,4 jam, atau hampir 12 jam sehari, enam hari seminggu. Beberapa pekerja mendapatkan penghasilan $523 (HK $ 4.110) sebulan.

Pelecehan pekerja rumah tangga di Hong Kong menjadi cerita internasional pada tahun 2014 ketika foto-foto online menunjukkan Erwiana Sulistyaningsih dalam kondisi memar dan kurus, seorang wanita Indonesia berusia 21 tahun. Dia datang ke Hong Kong untuk mencari uang untuk kuliah. Dia dipaksa bekerja di rumah tangga di mana dia tidak dibayar, kelaparan, dipukuli, dilarang tidur dan kamar mandi rusak.

Banyaknya tugas dibebankan kepada pekerja dengan bayaran tidak sesuai adalah salah satu aspek kehidupan paling tidak nyaman dan terlihat di Hong Kong. Visa mereka mengharuskan mereka tinggal dengan majikan mereka. Setiap Minggu, puluhan ribu pekerja menghabiskan satu hari mingguan gratis mereka di taman-taman dan plaza umum. (BBG Direct/VoA/Suzanne Sataline)