Ini Keajaiban Dialami Nanik Sudaryati Saat Ikuti Aksi Super Damai 212

maiwanews – Aksi Bela Islam Jilid III bertajuk Aksi Super Damai 212 pada Jumat (2/12/2016) di Silang Monas Jakarta yang diikuti massa yang luar biasa banyaknya, berlangsung sangat damai dan lancar.

Seorang peserta aksi bernama Nanik Sudaryati menceritakan pengalamannya yang mengharukan dengan sejumlah keajaiban sejak berangkat menuju lokasi aksi sejak subuh hari hingga shalat Jumat selesai.

Berikut cerita Nanik Sudaryanti selengkapnya yang dikutip dari akun FB pada Minggu (4/12/2016) dan juga banyak dikutip lalu diposting ulang di grup-grup WA:

KEAJAIBAN -KEAJAIBAN 212. Seharian kemarin hingga pagi hari ini , Minggu (4/12) di grup -grup WA, dan di time line FB , saya membaca banyak sekali orang -orang menulis kesaksian -kesaksian baik berkait dengan ketakjuban , keajaiban , dan berbagai peristiwa yg menyentak nurani, hingga membacanya kadang harus disertai hujan air mata. Hebatnya lagi , di antara kesaksian -kesaksian dari peristiwa 212 itu beberapa di antaranya yg menulis orang non muslim dan saudara kita beretnis China yg mengaku sengaja membaur dengan umat, hanya ingin tau apa sebetulnya yg ingin dilakukan atau disampaikan umat Islam.

Bahkan seorang Ahoker yg sengaja menyusup, meminta maaf berkali -kali dalam tulisannya karena selama ini sudah bersuudzon pada gerakan umat 212. Oh iya ada juga wartawan non muslim dan medianya James Riyadi (Lippo), jua menulis kesaksiannya dan kekagumannya atas ketertiban dan kecintaan umat Islam pada Allah SWT , serta agamanya pada aksi 212.

Saya sendiri sampai bingung dan kehilangan kata-kata , bahkan sulit memulai menulis, karena saya seperti melihat mimpi dengan peristiwa-peristiwa “212”. Saya merasa seperti baru pulang umroh atau berhaji, rasa keimanan saya makin kuat . Sy benar -benar seperti mengulang umroh saya tiga tahun lalu saat hampir sepanjang puasa hingga Lebaran berada di Makah. Semalam saya bilang pada para ponakan -ponakan, “Kalian belum ke Makah kan? Nah keajaiban -keajaiban yang terjadi di Makah itu sama persis dengan yg kalian rasakan waktu kalian di antara lautan umat muslin 212 kemarin” kata saya ke mereka.

Sekali lagi saya bingung mulai cerita dari mana, saking rasa yg bercampur aduk di hati hingga pagi ini. Saya pada Jum’at (212) lalu berangkat bersama tim JMP sekitar pukul 3 dini hari dari base camp Dapur Umum JMP di Cibubur dengan konvoi 12 mobil. Mobil saya posisi paling belakang. Keluar pintu Tol Jagorawi ada rasa mengudak -udak hati ketika saya lihat jalan tol di waktu sepagi itu sudah ramai , bahkan penuh. Keluar tol Rawamangun ..Masyallah saya mulai tersihir seperti berada dalam perjalanan Madinah -Makah atau Jeddah -Makah, saya melihat tiba -tiba jalanan terang benderang seperti banyak lampu layaknya di jalan -jalan Madinah -Makah atau Jeddah -Makah, saya melihat rombongan berbaju putih berjalan di alur jalan lambat, bus -bus besar di sepanjang Jln Prmuka menurunkan umat yg semua berbaju putih ,yg ternyata dari berbagai daerah, dan di berbagai sudut atau perempatan jalan juga banyak umat bergerombol seperti menunggu kelengkapan anggota rombongan . Sebelum subuh itu jalan sudah demikian ramai, antar umat satu dengan yg lain saling sapa. Memasuki kawasan Gambir konvoi 12 kendaran JMP mulai dipecah 4 di Gambir, 4 Pintu Masuk Monas (dekat arah Harmoni) dan 4 lagi di depan Indosat (Patung Kuda). Saya kebagian yg di depan Indosat.

Saat memasuki kawasan Monas suasan hati saya seperti melihat kawasan di sekitar Masjidil Haram . Bagaimana tidak? Di sana saya banyak melihat mobil -mobil pribadi yg di atapnya dipenuhi barang -barang (para mujahid dari luar kota), penjualan pakain layaknya untuk kelengkapan haji bertebaran di trotoar Monas, tenda -tenda kecil , dan meja -meja mulai dipenuhi dengan minuman dan makan . “Ayo sarapan dulu, silahkan ambil ” teriak mereka yg jaga tenda atau meja penuh makanan , bahkan ada yg memakai TOA utk memanggil umat bersarapan di subuh itu.

Masyallah saya juga melihat mereka yg datang subuh itu melaksanakan sholat subuh di jalan -jalan. Beberapa ruas jalan yg ditutup pagar kawat berduri di seputar Istana, dan di seputar RRI , membuat kami harus mutar lewat Harmoni utk menuju Indosat.

Sampai di depan Indosat (depan patung kuda) kami mendapat tempat yg strategis, bahkan polisi dan Satpol PP mempersilahkan kami memarkir mobil-mobil kami di situ (tidak jauh dari Posko sederhana yg kami buat). Masyallah hanya berselang berapa menit kami parkir…tiba -tiba seperti air bah datang mobil -mobil logisik dari berbagai organisasi atau hanya sekedar kumpulan dari Grup WA, Ibu-Ibu Pengajian, Grup Arisan, dll . Sepanjang jalan menuju Monas dan di sekitar Monas di pinggir -pinggir jalan penuh makanan, bahkan sudah seperti pameran akbar kuliner . Dan semua GRATIS. Dari nasi campur, nasi padang (dari padang yg dibungkus -kotak), nasi Madura, Lontong Sayur, Nasi Uduk dll , semua ada. Umat tinggal ambil sekuat dia bawa .

Merinding saya melihat para mujahid dan majahidah sampai bingung membawa makanan karena semua menawarkan gratis. Makanan meluber, dari subuh sampai selesai acara . Anda akan melihat , layaknya kalau Anda umroh di bulan puasa, di mana pada saat buka banyak sekali berbagai makanan di tawarkan, dan diberikan secara gratis. Jadi hari itu rasanya sampai bubar pun tdk ada mujahid yg kelaparan atau kehausan , bagiaman tidak ratusan ribu bahkan jutaan karton ada di sepanjang jalan. Dan umat tinggal mengambil saja.

Dari subuh ialiran manusia menuju Monas mengalir makin deras, ujungnya pukul 7 pagi Monas sudah penuh, dan sekitar kami (di luar Monas) yg tadinya masih lengang pukul 8 juga sudah makin padat. Dan saat pukul 10 pagi, kami sdh tidak bisa bergerak, kemana -mana . Kita hanya bisa berdiri di tempat. Bahkan waktu sholat, tidak sejekangkalpun tanah kosong. Sekali lagi persis suasan umroh atau saat berhaji.

Saya dan kawan -kawan saya juga merasakan keajaiban -kejaiban seperti di tanah suci. Sebagai contoh, saat pukul 8 pagi perut sudah mulai keroncongan saya pengin makan nasi padang seperti yg di tawarkan posko sebelah (banyak sayurnya). Sy minta sopir untuk meminta nasi bungkus padang ke posko sebelah, ternyata katanya sudah habis. Namun 10 menit kemudian, tiba-tiba anak muda membawa satu tas kresek besar nasi Padang persis seperi yg saya inginkan sambil mengatakan, “Titip ya tolong bagikan ” katanya begitu saja sambik meninggalkan bungkusan di atas tumpukan karton. Masyaallah, ternyata isinya nggak hanya puluhan bungkus nasi padang, tapi juga camilan yg lagi dipenginin tim JMP Regina Cloudya Vallery (Evelin). Tidak lama teman saya Mbak Ika Sarawati Sarah mengatakan , lagi nggak pengin makan nasi , tapi pengin makan kurma …entah dari mana asalnya tiba -tba ada bapak -bapak mengulurkan tiga kantong kurma kwalitas super. Lagi kawan saya yg juga jaga Posko Logistik JMP Mbak Acut Purwoko berbisik pengin Risoles ..Ya Allah ..gak lama kemudian Mbak Acut dicolek dari belakang ada yg memberi risoles , Allhuakbar!

Mbak Ika yg sudah mulai pengab dan susah nafas karena banyaknya orang , tiba -tiba mengatakan, Ya Allah berikan kami oksigen …tiba-tiba angin semilir yg sejuk sekali datang menerpa wajah dan hidung kami , hingga kami merasa lega bernafas.

Lagi Evelin mengatakan, pengin ngemut permen, dan lagi-lagi juga pedagang kopi dan teh di belakang kami menyodorkan dua pak permen … Subhanallah ! Usai sholat Jum’at saat logistik kita sendiri (makanan yg kita bawa) habis, ternyata kita semua Tim JMP pada kelaparan. Novia Opis yg dari pagi pengin nasi Padang dari RM tertentu, tiba -tiba membawa satu tumbukan nasi Padang Kotak (yg paginya kami sempat rasani atau omongin dari RM yg terkenal), dan satu box nasi bakar yg paginya juga sempat sy bayangkan. “Dari mana Pis?” …”Saya lagi jalan , eh bapak-bapak pada ngasih ini”…Ya Allah lha kok apapun yg ada dalam pikiran dan menjadi keinginan kami ENGKAU BERIKAN! Makanya sy sulit sekali menuliskan ini…..samua serba ajaib ..Allah SWT ada di mana -mana , di hati kita , di Monas dan di mana saja, asal kita ikhlas meminta Allah pasti kabulkan!

Saat pulang saya sudah mikir pasti macet total nih …Ya Allah saya melihat luar biasa kebesaranMU, jutaan manusia itu mengalir dengan tertib, yg berjalan kaki di trotoar, yg naik motor di pingir jalan, sehingga mobil yg di dalamnya para mujahid begitu bebas mengalir. Ajaib jutaan manusia berkumpul , namun jalanan tidak macet. Wajar kadang tersendat sedikit.

Oh ya keajaiban juga terjadi pada cuaca , sebelum hujan turun pas sholat Jum’at, setiap setengah jam bila udara sudah gerah, Allah SWT menyapukan angin disertai rintik hujan sebentar , kemudian panas lagi…demikian terus hingga turun hujan saat sholat Jum’at dan berhenti persis bersamaan dengan berhentinya sholat Jum’at atau saat acara selesai.

Yg lucu lagi ternyata kita juga tidak boleh sedikit pun punya pikiran dan hati jahil saat 212. Saya baru saja menggelar karton untuk sedikit bisa duduk, saya bilang, mudah -mudahan nggak ada yg nginjak -injak …eh baru diam , tiba-tiba mujahidah berbadan besar berpakain hitam nginjak -injak tempat saya duduk begitu saja tanpa permisi (bagi yg sudah ke Makah pasti ketawa membaca tulisan ini, karena kita jemaah dari Indonesia itu sering kelindas, atau bahkan diinjak jamaah2 haji berbadan besar dari negara lain)..yg kedua saya lagi mikir, mudah -mudahan nggak ada yg lempar sepatu kulit nih hujan -hjan kayak gini…Masyallah plok dua pasang sepatu terlempar di sebelah saya dari bapak-bapak yg mau solat …ha..ha…sambil menutup hidung saya menyingkir sepatu tersebut. Saya bilang ke Mbak Ika, “Mbak baru aku bilang sudah dikirimin yg aku nggak suka …ha..ha”…
Itulah sekelumit cerita peristiwa 212 dari sy , dan bagi sy pribadi ini perisitiwa yg luar biasa , hingga tidak mungkin saya lupakan sepanjang hidup saya. Cerita ini juga akan saya simpan untuk anak -cucu saya, tentang bagaimana kami dan para umat lainnya berjuang sungguh -sungguh untuk membela dan menjaga agama dan kita kami dari hinaan siapapun…..

Semoga setelah bela Islam 3 (212) pemerintah dan penegak hukum tidak main -main lagi dengan gerakan umat, dan mau menindak tegas penista agam. Kalau tidak , jangan salahkan kalau suatu saat lautan umat akan membuat JAKARTA LUMPUH berhari-hari!

Jakarta, Minggu 412
NSD