IPNU : Tokoh NU Pendukung Calon Lain “Pembakang”
GRESIK – Calon bupati dan wakil bupati Gresik periode 2010-2015 mendatang bakal memenangkan pemilukada pada 26 Mei mendatang jika mendapatkan dukungan dari organisasi Muslimat dan sejumlah badan otonomi (banom) dilingkungaan orgaanisasi NU. Sebab jumlah anggota distruktural organisasi NU dan nahdliyin jumlahnya separo lebih dari jumlah penduduk masyarakat Gresik.
“Yang mendapat dukungan dari muslimat dan banom diilingkungan NU bakal terpilih jadi bupati Gresik. Dan itu adalah pasangan Sambari Halim Radianyanto-M Qosim (SQ), karena tidak pernah mengecewakan masyarakat nahdliyin,” kata Syaiful Islam Al-Ghozi penasehat tim sukses pemenangan Calon bupati dan wakil bupati SQ.
Pria yang akrab dipanggil Gus Cicik ini menegaskan, jumlah nahdliyin di Gresik lebih banyak dibanding jumlah penduduk diluar organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, yakni sekitar 60 hingga 70 persen dari jumlah penduduk Gresik. Dipastikan nahdliyin memang akan jadi penentu pada pilbup mendatang, dan hal itu juga terbukti pada pilkada lima tahun yang lalu.
“NU sekarang berbeda dengan yang lima tahun yang lalu. Pasangan SQ banyak tokoh NU dan bisa dipertanggungjawabkan ke NU-anya. Tidak asal bicara sebagai tokoh NU tetapi kenyataanya merusak NU sendiri, artinya warga nahdliyin pasti memilih SQ. Ketua Muslimat organisasi NU lainya sudah berkali-kali ketemu saya, pasti mendukung SQ,” tegasnya
Ditambahkan M Qosim, NU sudah jelas tidak berpolitik seperti yang pernah ditausiahkan oleh KH Hasyim Asy ari. Jangan nunut urip (cari makan) dari NU, tetapi hidupilah NU. “Saya ini wakil tanfidziyah NU, tetapi saya mundur jauh sebelum mencalonkann diri, karena tunduk dengan wejangan kiai,” imbuh Qosim. “Itu sama dengan pernyataan mantan presiden Amerika Jhon F Kennedy, apa yang sudah kau berikan untuk negaramu, bukan sebaliknya,” ungkapnya
Sementara pendapat sejumlah kalangan muda NU, hengkangnya para tokoh NU ke calon diluar kader NU dinilai sebuah pembangkangan yang hanya mementingkan kekuasaan dan mengorbankan orgaanisai. Akibatnya ulah mereka bisa merusak dan memecah belah warga nahdliyin.
“Siapapun yang jadi sama, karena sifat dasar manusia. Alangkah baiknya jika memang mereka tidak sepaham dengan calon dari kader NU mengambil posisi netral, demi organisasi ukhuwah nahdliyin,” kata Imron Rosyadi Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Gresik
Dia memastikan suara nahdliyin akan tetap melirik kadernya yang tetap berjuang untuk NU. Artinya akan memilih calonya sendiri daripada orang sudah diluar NU. Alasanya secara struktural NU Gresik berjalan baik dan terorganisir. “Mereka kan hanya mendukung orang lain (luar kader NU). Tentunya bukan untuk NU jika memang yang didukung itu terpilih, sehingga nahdliyin yang jumlahnya tidak kurang dari 70 persen di Gresik lebih yakin memilih kadernya sendiri,” tandasnya. “Tokoh NU yang mendukung calon lain adalah pembangkang, karena tidak tunduk dengan kaidah-kaidah NU, mereka hanya mementingkan kekuasaan dari pada ukhuwah,” tegasnya
Meski perbedaan antara NU dan Muhammadiyah di seputar ibadah, sesungguhnya tidak masuk hal yang bersifat prinsip, tetapi dijadikan isue penting untuk menarik suara pada pemilihan calon bupati dan wakil bupati di kabupaten Gresik yang akan helat 26 Mei mendatang. Terbukti kandidat yang di isukan sebagai calon dari kalangan Muhammadiyah mereaksi secara kera karena dainggap menyudutan.
Pasangan calon bupati dan wakil bupati Gresik itu adalah Sambari Halim Radiyanto-M Qosim (SQ). Salah satu tim sukses cabup dari Golkar ini bahkan mereaksi keras dan menantang seberapa jauh ke NU-anya calon yang menuding jagonya sebagai warga Muhammadiyah.
“Banyak isue berdar kalau Pak Sambari (Cabup dari Golkar-red) orang Muhammadiyah. Padahal beliau ini orang yang suka mengadakan tahlil dan melakukan ziarah wali songo,” kata Gus Cicik penasehat tim pemenangan pasangan SQ
Pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawarah di Kecamatan Ujungpangkah ini mengaku heran mengapa isue yang bisa memecah belah umat Islam itu dijadikan alat politik hanya untuk mendapatkan dukungan suara dari rakyat. Kendati begitu, Gus Cicik tidak bisa menerima jika jagonya di isukan sebagai warga Muhammadiyah.”Orang yang dinilai itu adaah ahlaknya, bukan dari kalangan mana. Ini adalah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan,” katanya geram
Bahkan Ustadz berambut gondrong ini juga menuding calon yang menuding jagonya warga Muhammadiyah juga menggunakan cara-cara intimidasi kepada masyarakat nahdliyin. Mereka mengatakan tuding Gus Cicik, jika anggota Muslimat NU tidak memilih Humas (Husnul Khuluq-Musayfa Noer) hukumnya berdosa. “Apa maksudnya semua ini, marilah kita menggunakan cara-cara yang santun dan elegan,” imbuhnya berapi-api
Hal yang sama juga di katakan M Qosim, bahwa calon yang masih mengatasnamakan NU itu menggunakan kekuasaanya untuk menekan dan mengintimidasi PNS. Buktinya saat dirinya berkunjung di Pulau Bawean seluruh instansi dihimbau untuk tidak mengikuti acaranya.
“Begitu saya sampai disana (Bawean) SMS bertebaran kemana-mana. Instansi pemerintah disana diminta untuk melakukan kegiatan kerja bhakti agar tidak ikut acaranya SQ. Padahal saat saya kesana hari Minggu sekolah dan kantor kan libur semuanya,” ungkapnya.
Sementara Sambari enggan menanggapi isue yang dikatakan oleh penasehat tim pemenanganya itu. Yang paling penting bukti dan kenyataanya nanti, soal NU dan Muhammadiyah adalah masalah yang tidak penting untuk dikembangkan karena rawan benturan. “Saya orang Islam, yang penting saya menang dan akan mengurus berbagai persolan yang selama ini belum disentuh pemerintah. Masyarakat sekarang sudah pinter dan tidak mungkin bisa didekte hanya dengan perbedaan-perbedaan khilafiyah,” pungkasnya.
Artikel Lainnya:






