Kekerasan di Myanmar, Hingga 12.000 Anak Pengungsi Rohingya ke Bangladesh Tiap Minggu

Mohammed Yasin, 8, salah seorang anak pengungsi Rohingya, tinggal di tempat penampungan di kamp darurat Kutupalong di Cox’s Bazar, Bangladesh. (Foto: UNICEF/Brown)

maiwanews – Kekerasan di Myanmar mendorong hingga 12.000 orang anak ikut mengungsi ke Bangladesh tiap Minggu. Lebih dari 320.000 anak pengungsi Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh Selatan sejak akhir Agustus, termasuk sekitar 10.000 orang pengungsi dari Myanmar selama beberapa hari terakhir. Mereka hidup dalam kondisi putus asa dan terancam terjangkit penyakit menular. Demikian disampaikan Badan PBB untuk Urusan Anak (United Nations Children’s Fund / UNICEF) dalam pernyataan resminya Jum’at 20 Oktober waktu Dhaka Bangladesh.

Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake mengatakan banyak anak pengungsi Rohingya di Bangladesh menjadi saksi kekejaman di Myanmar, kekejaman itu tidak seharusnya dilihat anak kecil, semua menderita kerugian luar biasa. Anak-anak tersebut sangat membutuhkan makanan, air bersih, sanitasi, dan vaksinasi untuk melindungi mereka dari penyakit.

Mereka juga butuh bantuan mengatasi pengalaman buruk mereka. Mereka butuh pendidikan, konseling, dan harapan. “Bagaimana mereka akan tumbuh menjadi warga negara produktif dari masyarakat mereka? Krisis ini mencuri masa kecil mereka. Kita tidak boleh membiarkannya mencuri masa depan mereka pada saat bersamaan”, ungkap Anthony Lake.

Lebih dari setengah juta orang Rohingya telah menyeberang ke distrik Cox Bazaar Bangladesh sejak akhir Agustus setelah melarikan diri dari kekerasan mengerikan di Myanmar. Mereka telah bergabung dengan sekitar 200.000 orang pengungsi lainnya. Hampir 60 persen dari pendatang terakhir adalah anak-anak, jumlah rata-rata antara 1.200 dan 1.800 per hari.

UNICEF menyerukan kekejaman menargetkan warga sipil di Negara Rakhine Myanmar segera diakhiri, dan agar pelaku kemanusiaan diberi akses langsung dan tidak terbatas kepada semua anak korban kekerasan di sana. Saat ini, UNICEF tidak memiliki akses ke anak-anak Rohingya di Rakhine Utara.

Menjelang sebuah konferensi internasional pada tanggal 23 Oktober di Jenewa, UNICEF mendesak para donor untuk segera menanggapi Rencana Aksi Kemanusiaan Bangladesh (Bangladesh Humanitarian Response Plan / HRP) senilai USD 434 juta. UNICEF membutuhkan USD 76,1 juta untuk memenuhi kebutuhan mendesak anak-anak Rohingya pengungsi baru, dan juga pengungsi sebelum arus masuk baru-baru ini, serta anak-anak dari masyarakat sekitar. (UNICEF)