Kekeringan Meluas di Tiga Kabupaten Pantura Jatim

JOKO LUDIYONO
JOKO LUDIYONO

maiwanews – Setidaknya sebanyak 56 sungai dan waduk yang tersebar di Bojonegoro, Tuban dan Lamongan, jatim terus mengering. Kekeringan ini, akan kian meluas jika pertengahan bulan ini tidak turun hujan

Kondisi tesebut makin parah  dengan menipisnya stok air di sejumlah waduk besar di tiga kabupaten itu. Yakni  Waduk Pacal di Bojonegoro, hanya tersedia air1,8 juta M3 , juga di Waduk Gondang, Lamongan dan Waduk Krinjo di Kabupaten Tuban. Kekeringan juga melanda sedikitnya 42 embung di Bojonegoro, yang terus mengering.

Berdasar data yang dihimpun dari Balai Pengelolaan dan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo (BPSDA), Bojonegoro, selama ini beberapa daerah di areal aliran waduk, para petaninya masih menanam padi. Mereka optimis, bahwa aliran air dari waduk masih cukup untuk menanam padi hingga musim panen. Rata-rata petani  menanam padi dengan pola tanam tiga kali dalam satu tahun. Namun, pola tanama tersebut  kini  meleset.

Sungai yang mengalami kekeringan dari hulu hingga hilir Bengawan Solo, diantaranya ialah Sungai Batokan, Dadaran, Gebang, Lawu, Jangkang, dan sungai Serah, sungai Gede, Kalipang, Jurang Krapak, dan Kedung Bundar. Sedangkan lainnya puluhan sungai antara lain, sungai Tinggang, Kali Puter, Gondang, Kedung Bendo, Kalitidu, Sumur Jungkur, kali Bogo, Kali Dander, Kedung Bajul, Kali Pacal, Kali Basuki, Kali Mekuis, Kali Ingas, dan Kali Semar Mendem.

Sedangkan di Lamongan dan Tuban, kondisinya hampir sama. Misalnya, sungai yang berasal dari sumber air di Sale (daerah perbatasan dengan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah), juga telah mengering.

Padahal selama ini air yang ada di sungai itu dimanfaatkan sebagian besar warga untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK). Selain itu, keberadaan air  juga dipergunakan untuk untuk mengairi sawah. Praktis, semenjak enam pekan ini tidak dapat dimanfaatkan lagi. Kondisi tanah di sungai itu juga kebanyakkan sudah pecah-pecah karena kekeringan.

Kekeringan yang terus meluas di Tuban seperti saat ini, tengara BPSDA diantaranya disebabkan karena daratan tanah semakin kritis. Hal ini diakibatkan akibat banyaknya pohon di hutan telah  ditebang habis. Sementara, bila musim hujan tiba air tidak bisa diserap ke dalam tanah. Bila datang hujan berpotensi terjadinya  banjir bandang.

Kebutuhan Air di Tuban Tercukupi

Sementara di Kabupaten Tuban, meski amuk kekeringan kian menjadi kekurangan akan air bersih warga sudah tercukupi dengan pasokan air tiap hari ke daerah kantong kering dari pemkab setempat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiyono, menyatakan guna pemenuhan akan kebutuhan air bersih pihaknya tiap hari mengerahkan sejumlah truk tangki ke beberapa tempat yang dilanda kekeringan.

Menurut Joko Ludiyono, jumlah armada sekitar 4 truk tanki air yang dipunyai BPBD saat ini masih kurang. Karenanya, tahun depan direncanakan penambahan armada dengan sistem sewa melalui tender kepada pihak ketiga.

“Saat ini untuk memenuhi kebutuhan akan truk tanki sangat sulit. Pihak swasta yang ada sudah melakukan kegiatan droping air ke masyarakat dengan sistem penjualaan per rit atau satuan pengiriman,’ tukas Joko Ludiyono. (lea)