Kiat Buruh Menyiasati Keterbatasan Penghasilan
maiwanews – Pemerintah mengalami dilema dalam mejembatani dua kepentingan antara buruh dan pengusaha. Di satu sisi keberadaan pengusaha penting untuk pertumbuhan ekonomi, di sisi lain kesejahteraan buruh tak kalah pentingnya untuk kestabilan sosial bahkan politik.
Upah minimum sebesar Rp 1,4 juta diakui pemerintah memang jauh dari cukup untuk menopang kebutuhan dasar para buruh dan keluarganya. Staf Khusus Kemenakertras, Dita Indah Sari bahkan menyebut, upah buruh seharusnya Rp 2,7 juta/bulan.
Angka tersebut diperoleh Dita berdasarkan hasil hitung-hitungan terhadap 163 komponen kebutuhan hidup yang pernah disurvey oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat.
Lalu bagaimana cara para buruh untuk bisa tetap bertahan hidup selama bertahun-tahun dengan upah yang-ternyata-sangat jauh dari standar kebutuhan minimum?
Berdasarkan pengamatan ke beberapa kawasan pabrik di Cibinong Bogor terhadap tiga kebutuhan rutin yakni rumah tinggal, makan di tempat kerja, dan transport (khususnya pabrik yang tidak menyediakan fasilitas itu), para buruh rupanya punya kiat-kiatnya sendiri.
Rumah Tinggal
Dengan harga sewa tempat tinggal sebesar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu sebulan, tentu sangat memberatkan. Umumnya buruh menyiasatinya dengan menyewa tempat tinggal secara patungan antara dua hingga tiga orang. Sayangnya, cara ini hanya bisa untuk buruh yang belum berkeluarga.
Makan di Tempat Kerja
Harga sekali makan sederhana sekelas warteg di Jakarta dan sekitarnya antara Rp 6 ribu hingga Rp 8 ribu. Dengan demikian, jika jumlah hari kerja sebanyak 22 hari dalam sebulan, maka biaya yang harus disiapkan untuk makan sebesar Rp 132 hingga Rp 176 ribu.
Biaya rutin sebesar itu, meski sudah sangat murah, namun masih juga terlalu besar bagi buruh. Karenanya mereka umumnya menyiasatinya dengan membawa bekal dari rumah, tentu dengan lauk seadanya. Jika pun terpaksa harus membeli makan di tempat kerja, jangan heran jika para buruh hanya makan mie atau bakso saja.
Transport
Biaya untuk transport agak sulit menghitung karena banyaknya faktor yang mempengaruhinya. Umumnya, jarak dan ketersediaan angkutan umum yang langsung dari rumah ke pabrik sangat berpengaruh terhadap besarnya biaya transport rutin para buruhk ke tempat kerja. Biaya untuk transport itu bervariasi antara Rp 6 ribu hingga Rp 20 ribu setiap hari.
Untuk jarak rumah dan pabrik yang hanya satu hingga dua kilometer, sebagian memilih berjalan kaki. Namun jika biayanya sudah cukup besar, sangat logis jika mereka memaksakan diri mencicil sepeda motor. Cicilan Rp 400 ribu hingga Rp 500 tentu juga tak kalah beratnya, namun keringanan akan terasa kemudian setelah masa cicilan selesai, tiga tahun kemudian.
————————————————–
Sayangnya tidak semua kebutuhan dasar yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari para buruh bisa disiasati. Masih ada tiga komponen kebutuhan dasar lain yakni kesehatan, pendidikan dan harga sembako yang justru seringkali membuat kaum buruh ‘terkapar’ tak berdaya.
Yang bertanggungjawab mengatasi problem terlalu besarnya kesenjangan antara penghasilan buruh dan biaya kebutuhan ketiga komponen dasar itu, siapa lagi kalau bukan pemerintah, misalnya melalui Jamsostek, Jamkes, pengendalian harga sembako dll. (yulham).
Artikel Lainnya:




