Mahasiswa Indonesia di Yaman Kecewa Kinerja Dubes

maiwanews – Mahasiswa Indonesia di Yaman mengaku kecewa akan kinerja Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Yaman, Nurul Aulia. Dalam sebuah pernyataan sikap dikatakan Dubes Aulia selama empat tahun masa jabatannya tidak menunjukkan figur sebagai pemimpin dan orang tua bagi para mahasiswa dan Warga Negara Indonesia (WNI).

Surat pernyataan tersebut ditandatangani 30 mahasiswa dan diterima redaksi pada 10 Agustus 2012. Mereka mengaku pernyataan sikap diambil setelah memperhatikan aspirasi masyarakat Indonesia di Yaman. Para WNI tersebut dikatakan pernah berinteraksi secara langsung dengan dubes Aulia. Pernyataan itu menurut mahasiswa telah diketahui juga oleh seluruh staf KBRI di Sana’a.

Berikut pernyataan sikap mahasiswa WNI di Yaman terkait perilaku Dubes Nurul Aulia selengkapnya:

  1. Hubungan sosial masyarakat yang buruk dirasakan hampir semua WNI di Yaman terutama di kalangan pelajar/mahasiswa Indonesia yang tidak menunjukkan figur sebagai pemimpin dan orang tua yang patut dihormati.
  2. Sikap dubes sering menelan ludah sendiri seperti tawaran untuk mengungsi ke Wisma Duta saat krisis di Yaman nyatanya mengusir WNI di wisma.
  3. Tidak bergaul dengan masyarakat yang menginginkan sikap harmonis dari dubes terutama pada saat kondisi keamanan di yaman yang sangat mencekam.
  4. Sepertinya tidak ada kalender kerja Dubes untuk bersilaturrahmi dengan mahasiswa.
  5. Lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan keluarga dari kepentingan dinas karena terbukti mengalihkan supir dinas untuk supir pribadi istrinya untuk keliling pasar.
  6. Sering menonjolkan diri sebagai Dubes luar biasa dan berkekuasaan penuh sehingga bersikap angkuh. Sikap ini sangat merusak citra pemimpin Indonesia lainnya karena dapat menimbulkan kesan bahwa seolah-olah semua pemimpin seperti itu.
  7. Sering memperlihatkan sikap seolah-olah KBRI adalah perusahan pribadi dan keluarganya sehingga merasa tidak ada malu bila melakukan kebijakan yang tidak sesuai dengan kesepakatan.
  8. Mengadu domba antara mahasiswa dan menyudutkan satu pihak padahal dubes adalah yang seharusnya mengayomi semua mahasiswa.
  9. Pada tahun 2011 semasa krisis, Dubes Nurul menolak 80 pelajar dari Hudaidah untuk berlindung ke KBRI karena situasi krisis, padahal KBRI masih menerapkan status Siaga I yang membolehkan setiap WNI berlindung atau tinggal sementara di KBRI dan Wisma Duta sebelum dievakuasi ke Indonesia. Hal ini dikarenakan sentimen pribadi kepada salah seorang mahasiswa Hudaidah, namun ia dendam dan menjatuhkan sangsi kepada seluruh mahasiswa.
  10. Mengadu domba mahasiswa Hudaidah dengan Syaikh Muhammad Mur’i terutama terkait dengan evakuasi. Pemutarbalikan hasil pembicaraan dengan Syeikh Mur’i untuk menyudutkan mahasiswa Hudaidah bahwa mahasiswa Hudaidah mahasiswa tercela dan pendusta.
  11. Memanfaatkan acara dinas keluar daerah untuk pesiar.
  12. Kami mengetahui Dubes Nurul Aulia mengirim barang-barang pribadi dari Indonesia ke Yaman dan sebaliknya dari Yaman ke Indonesia dengan menggunakan kurir KBRI yang dinas ke Jakarta dan dibayar kantor.
  13. Istri Dubes sangat membenci para pramugari Indonesia, namun bila ada kepentingan pribadi seperti titip barang atau kegiatan DWP, tidak merasa malu mendekati mereka.
  14. Istri Dubes mencari keuntungan pribadi dalam kegiatan promosi Indonesia. Istri Dubes tidak kooperatif dan cenderung menutup diri serta bersikap pura-pura ramah. Ia hanya akan perhatian kepada pejabat dari Indonesia dan perusahaan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan anak-anaknya.
  15. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dubes selalu menutup diri dan mengurung diri di kamar kantor ruang kerjanya tidak mau bergaul dengan masyarakat. Dubes juga tidak mempunyai relasi dengan pejabat-pejabat tinggi terkemuka Yaman sehingga citra Indonesia di Yaman tidak menonjol. Sehingga negara sangat rugi menggaji dia dengan uang ribuan dollar yang tidak mampu membuat terobosan.
  16. Dubes terlihat super sibuk jika ada pejabat tinggi Indonesia datang ke Yaman untuk kunjungan pribadi maupun resmi. Padahal sehari-hari dia tidak bergaul dan hanya mengurung diri di ruang kerja.
  17. Seorang dubes menutup mata dan tidak berusaha mengklarifikasi pemberitaan miring mengenai keadaaan mahasiswa serta fitnah yang ditujukan salah satu televisi Indonesia terhadap beberapa lembaga pendidikan di Yaman, sehingga sikap diam ini sangat menyakiti mahasiswa Indonesia di Yaman.
  18. Sangat disayangkan sampai detik-detik terakhir masa tugas Dubes Nurul Aulia tidak ada perbaikan prilaku, sikap dan kinerjanya.

Meskipun telah menyatakan sikap demikian, namun mahasiswa dan WNI di Yaman, tetap aktif ikut serta dalam segala kegiatan KBRI baik formal maupun non formal karena mahasiswa tidak bermaksud untuk memusuhi instansi KBRI dan staf lainnya di KBRI.