Misi Advokasi Teh Indonesia Tunjukkan Sinyal Positif

Petani Teh

maiwanews – Misi addvokasi teh Indonesia ke negara-negara Eropa dalam rangka dalam rangka peningkatan dan pengamanan ekspor menunjukkan sinyal positif. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, dalam pernyataan tertulisnya 18 Desember menyatakan upaya misi advokasi Indonesia Tea Trade Mission (ITTM) untuk membuka akses pasar ekspor teh ke Eropa menunjukkan sinyal mengembirakan.

3-9 Desember lalu tim ITTM bertemu dengan pihak-pihak terkait ekspor ke Eropa, di Hamburg Jerman bertemu dengan pihak Tea & Herbal Infusion Europe (THIE) dan Eurofins Scientific, di London Inggris bertemu buyer teh Inggris dan Eropa, dan di Brussel Belgia bertemu pihak Directorate General for Health and Food Safety (DG SANTE) dan Directorate General for Trade (DG TRADE) Komisi Eropa.

Tim ITTM melakukan lobi agar ambang batas residu anthraquinone (AQ) dalam daun teh kering ditetapkan menjadi 0,2 mg/kg karena dengan ambang batas itu tidak berbahaya bagi konsumen. Nilai ini diperoleh melalui riset dengan mempertimbangkan analisis risiko. Adapun ambang batas residu dalam Peraturan Komisi Eropa Nomor 1146/2014 yaitu sebesar 0,02 mg/kg. Nilai ini dianggap terlalu ketat bagi Indonesia.

Menteri Oke mengatakan, pada konsultasi teknis dengan THIE, delegasi ITTM mendapat masukan bahwa kajian ambang batas AQ oleh Indonesia cukup konkret. Ambang batas AQ bisa diubah jika ada bukti ilmiah bahwa AQ sebagai kontaminan tidak terhindarkan.

Kunjungan misi advokasi teh Indonesia dilakukan menyusul kebijakan impor Uni Eropa menghambat ekspor teh Indonesia ke Eropa. Peraturan Komisi Eropa Nomor 1146/2014 menetapkan syarat ambang batas maximum residue level AQ) pada teh sebesar 0,02 mg/kg. Peraturan ini diterbitkan pada 23 Oktober 2014 dan berlaku mulai 18 Mei 2015. (Kemendag)