Palestina Sebut Tembakan Tentara Israel Tewaskan 3 Demonstran

Bendera Palestina. (Foto: natanaelginting)

maiwanews – Para pejabat Palestina mengatakan tentara Israel Jumat 27 April menembak mati tiga demonstran Palestina di Gaza ketika ribuan warga Palestina berunjuk rasa di sepanjang perbatasan selama lima minggu berturut-turut. Para pengunjuk rasa berkumpul beberapa ratus meter dari pagar perbatasan Jalur Gaza dengan Israel, beberapa melempar batu dan membakar ban.

Para saksi mengatakan kelompok lebih kecil mendekati pagar dan mencoba menerobosnya, direspon dengan tembakan gas air mata dan peluru karet. Kekerasan telah menjadi aktifitas mingguan sejak protes dimulai pada bulan Maret.

Pihak Israel membela tindakan tentaranya dalam mengatasi pengunjuk rasa dengan alasan untuk menjaga perbatasan dan kedaulatan Israel. Israel juga menuduh Hamas, pemegang pemerintahan Gaza, menggunakan para pengunjuk rasa sebagai penutup untuk melakukan serangan. Hamas menyangkal tuduhan itu.

Para pejabat kesehatan Palestina mengatakan selain tiga orang tewas pada kejadian Jumat, lebih dari 600 lainnya terluka, termasuk 138 orang terkena tembakan api.

Kekerasan terjadi beberapa jam setelah pimpinan hak asasi manusia PBB mengecam Israel karena menggunakan kekuatan berlebihan terhadap demonstran. Dalam sebuah pernyataan Jumat, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad Al Hussein menyebut hilangnya nyawa warga Palestina selama lima minggu terakhir adalah hal menyedihkan. Banyaknya korban merupakan penegasan bahwa kekuatan berlebihan digunakan terhadap demonstran. Tidak sekali, tidak dua kali, tetapi berulang kali.

Setidaknya 41 pengunjuk rasa tewas oleh tembakan langsung Israel dan lebih dari 1.600 terluka dalam aksi protes mingguan sejak 30 Maret, menurut pejabat kesehatan Palestina.

Demonstrasi direncanakan akan berakhir 15 Mei, dirancang untuk memperingati sebagai Nakba, atau malapetaka, ketika ratusan ribu orang Palestina harus melarikan diri dari tanah mereka atau diusir selama perang tahun 1948 yang disusul dengan pembentukan Israel.

Demonstrasi itu diperkirakan akan berakhir bersamaan dengan rencana Washington untuk membuka kedutaan di Jerusalem, sebuah langkah yang telah membuat marah warga Palestina, yang mengklaim bagian timur kota itu sebagai ibu kota negara masa depan mereka. (BBG Direct/VoA)