maiwanews logo maiwanews
Senin, 23 Mei 2011
aso


Pembukaan Lahan Picu Konflik Satwa dan Manusia

hutan

Foto Ilustrasi: Yador


Eskalasi konflik satwa liar dengan masyarakat di daerah pingggiran hutan terancam meningkat disebabkan rencana pembukaan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industri (IUPHKK-HTI) oleh PT. Rencong Pulp dan Paper Industry (PT. RPPI) seluas + 10.384 ha.

Kadiv Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, M. Nizar Abdurrani, kepada maiwanews.com Senin 23 Mei 2011 mengatakan hutan yang seluruhnya terletak di Aceh Utara ini telah mendapatkan persetujuan pencadangan areal berdasarkan Surat Gubernur Nomor: 522.51/BP2T/4729/2010, tanggal 7 Juni 2010.

WALHI Aceh yang mengikuti sidang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), beberapa waktu lalu, telah menyampaikan potensi konflik ini kepada anggota Komisi AMDAL propinsi Aceh.

“Lokasi IUPHKK-HTI dari PT. RPPI sebagian besar berada di Kecamatan Nisam Antara Aceh Utara, hutannya berada dikawasan dekat pemukiman penduduk. Kalau memang lahan tersebut jadi dibuka, sudah bisa dipastikan hewan-hewannya akan menyerbu perkampungan penduduk,” ujar Ketua Divisi Riset dan Kajian Publik, Mursalin, Senin 23 Mei 2011 di Banda Aceh.

Mursalin mengakui wilayah konsesi tersebut berada di Hutan Produksi, namun berdasarkan hasil kajian untuk persiapan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RTRWA), daerah ini merupakan salah satu kawasan dengan indeks keberagaman hayati yang sangat tinggi (High Key Biodeversity Indexs).

Sebelumnya, berdasarkan analisis vegetasi yang dilakukan oleh tim penyusun AMDAL, tutupan hutan di kawasan tersebut secara umum tergolong sangat baik dengan tingkat kerapatan pohon mencapai 60,80 batang/ha. Bahkan untuk tingkat semai mencapai jumlah 5.292,15 batang/ha walaupun jenis kayu dengan kualitas baik sudah mulai jarang dijumpai.

“Tapi produk hutan non kayu seperti Kempas (Koompassia excelsa), tempat favorit sarangnya lebah madu, kayu penghasil damar dan tumbuhan obat-obatan kayak pasak bumi masih banyak dijumpai. Ini keanekaragaman hayati yang sangat perlu dijaga kelestariannya,” jelas Mursalin, yang merupakan alumni MIPA Biologi Universitas Syiah Kuala.

Mursalin juga menyampaikan berdasarkan masukan dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Aceh Utara, daerah tersebut sangat rentan terhadap konflik satwa terutama Gajah yang frekuensinya mencapai 3 (tiga) kali dalam setahun.

“Tapi anehnya malah dalam dokumen AMDAL kemarin (Jumat, 20 Mei 2010-red), kok konflik satwa tidak dianggap sebagai sebuah dampak penting dalam Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL),” Mursalin menyayangkan.

WALHI Aceh sendiri telah melakukan kajian dan mencatat selama empat bulan terakhir konflik satwa di Aceh paling kurang sudah terjadi 14 kali. Di lokasi rencana IUPHKK-HTI dari PT. RPPI, WALHI Aceh menginventarisir ada beberapa satwa liar yang berpotensi besar menimbulkan konflik dengan masyarakat dikemudian hari seperti Gajah, Harimau, Kera selain Babi hutan. Binatang yang disebut terakhir ini berpotensi menjadi hama jika satwa ini berpindah dari habitatnya ke kawasan budidaya masyarakat dikarenakan pembukaan areal hutan secara masif untuk kepentingan penananan Akasia (Acacia mangium) sebagai tanaman pokok.

Berdasarkan pengakuan masyarakat setempat bahwa kebun mereka yang ditanami sawit sangat sering mendapat gangguan dari satwa liar terutama Gajah.

Rencana perusahaan untuk mengalokasikan Daerah Pelestarian Satwa Liar (DPSL) dan Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN) juga tidak realistis karena lokasi untuk daerah dan kawasan yang dimaksud berada pada daerah dengan kemiringan lereng < 40%. Seperti diketahui bahwa dengan tingkat kemiringan lereng yang demikian besar, frekuensi satwa liar dan kerapatan tumbuhan sangat jarang ditemukan.



ARTIKEL LAINNYA

Tunggakan TPP GPAI Lamongan Sudah Diusulkan ke Pusat
Peningkatan Tata Kelola Pacu Kinerja Perusahaan
Isi Percakapan Sutan-Rudi yang Diputar di Sidang
Perusakan Pospol Dipicu Penghentian Arus Lalu Lintas
Paripurna DPR Akan Sahkan RUU Tentang Desa
Indonesia Dibawah Kontrol Kartel Tambang Internasional?
Nama 86 Korban Tabrakan Kereta dan Truk Tangki di Bintaro
Jokowi: Jalan Layang Casablanca Rampung Malam ini