Pembukaan Penambangan Emas Dihentikan Warga

BOJONEGORO – Warga Dusun Kalimas, Desa Bareng, Kecamatan Sekar melarang kegiatan penambangan emas yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak diketahui nama LOKASI TAMBANG EMASperusahaannya dan terkesan liar.

Hal itu ditegaskan oleh Kepala Dusun Kalimas Samingun, Jumat (16/4,2010).  “Mereka mengaku dari Tuban dan Bojonegoro kota, “ katanya.

Pengusiran dilakukan Bulan Desember 2009 lalu, warga dibantu Perhutani berjaga ketat di sekitar lokasi penambangan. Diceritakan oleh Samingun, penambangan emas dilakukan dengan cara membuat menara bor yang dimasukkan kedalam tanah dengan suara mesin diesel yang menganggu ketenangan warga.

Kemudian bersama tokoh dan pemuda dusun mendatangi penambang dan dingatkan untuk berhenti beraktifitas. Peringatan tak direspon, wargapun melaporkan ke pihak Muspika dan Perhutani, akhirnya penambang emas beranjak dari lokasi pengeboran.

Samingun mengatakan, aktifitas penambang emas berlangusng selama tiga minggu dan membuat warga gelisah. Hal itu dikarenakan warga khawatir terjadi hal buruk di diusunya. “Sebab lokasi penambangan berada dekat di sumber mata air untuk kebutuhan minum warga. Jadi kami usir mereka, “ jelas Samingun.

Setelah penambang emas pergi, warga menjadikan tiga titik lubang pengeboran emas sebagai tandon air. Dari informasi yang dihimpun di dusun setempat menyebutkan bahwa di lokasi penambangan emas tersebut terdapat kandungan logam mulia yang tak terhingga nilainya dan tak dimiliki di lokasi lainnya di Kab Bojonegoro.

Hal itu terbukti dari aliran sungai yang membentang di arah utara lokasi, yakni di Kali Gandong kerap kali ditemukan butiran emas oleh warga di sekitar DAS. “Sering kali disungai itu ada warga yang menemukan butiran emas, ya setiap musim kemarau selalu ada saja warga yang menemukan emas, “ kata Suprayit (45) warga Desa Trenggulunan Kec Ngasem. Di desanya juga dekat dengan aliran Kali Gandong.

Di tempat terpisah Adminiatur Perum Perhutani Bojonegoro, Ir Sriwiyono, menyatakan aktivitas penbambangan emas di hutan yang dikelolanya itu berisiko akibat pembuangan tailing atau limbah penambangan.

Selain itu areal penambangan itu di kawasan hutan lindung, sehingga berpotensi mengganggu kawasan konservasi.

”Kami sepakat dengan warga untuk melarang penambang, sewaktu waktu mereka datang lagi. Kamipun akan mengusir mereka, sebab mereka liar dan tidak ada ijin, “ katanya.

Dia mengaku heran juga dengan aktifitas penambang emas, dikarenakan di lokasi medannya berat, namun penambang emas dapat membawa peralatan berat.