Rapor Siswa MAN 2 ‘Ditahan’ Karena Belum Lunasi Infaq
BOJONEGORO – Serjumlah siswa kelas XI sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bojonegoro, yang berada di bawah naungan Kantor Kementrian Departemen Agama (Kemendepag) setempat, yang tahun ajaran ini naik ke kelas XII rapornya ‘ditahan’ akibat belum melunasi uang infaq.
Uang infaq dimaksud, seperti disebutkan oleh sejumlah wali murid, diperuntukkan kegiatan pembangunan sewaktu siswa diterima di MAN 2, yang notabene termasuk salah satu sekolah favorit di Bojonegoro, dengan besaran Rp 600 ribu.
Para wali murid yang hendak mengambil rapor, Sabtu (26/06/2010) tidak bisa berbuat banyak lantaran pihak sekolah menyatakan jika infaq belum dilunasi buku laporan prestasi siswa tersebut tidak akan diberikan.
“Kata panitia pembagian rapor, semuanya sudah menjadi keputusan kepala sekolah. Karena belum ada uang dan saya janjikan bulan depan tetap tidak bisa,” kata seorang wali murid dengan muka sedih. Bajunya lusuh dan wajahnya berkeringat.
Namun, salah seorang anggota Komite Sekolah MAN 2 Bojonegoro, Agus Susanto, yang dihubungi mengatakan pihak sekolah seharusnya bersikap lunak dan kompromi.
“Kalau seperti itu, namanya sudah pemerasan. Karena, infaq sifatnya sukarela dan tidak bisa dipaksa. Dalam persoalan ini, saya tidak pernah dilibatkan. Semestinya, segala keputusan yang menyangkut persoalan anak didik harus dimusyawarahkan dengan pihak komite sekolah. Ini artinya, MAN 2 sudah tidak lagi membutuhkan komite. Kalau memang hanya untuk formalitas saja, lebih baik dibubarkan saja,” tegas Agus Susanto.
Dikatakan Agus, persoalan serius ini akan segera dikoordinasikan dengan pihak sekolah dan Kantor Kemendepag Bojonegro.
“Kalau kejadian ini terus berulang, yang menerima akibatnya adalah siswa dan wali murid yang seakan-akan jadi sapi perahan, tandas Agus.
Sampai berita ini ditulis, pihak MAN 2 dan Kantor Kemendepag Bojonegoro belum bisa dikonfirmasi.
Artikel Lainnya:





