Suriah Eksekusi Ribuan Tahanan di Penjara Militer Saydnaya Sejak September 2011

Ilustrasi Penjara (Foto: Falkenpost)

maiwanews – Laporan Amnesty International (terbit 7 Februari) menyebutkan sejak September 2011 Suriah telah melakukan eksekusi mati terhadap tahanan di penjara militer Saydnaya. Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) menyebutkan bahwa berdasarkan pengakuan mantan petugas penjara dan mantan tahanan, Amnesty International (Amnesti Internasional) membangun gambaran rinci bahwa pihak berwenang Suriah telah mengeksekusi ribuan orang secara tidak adil.

Sebelum dihukum gantung, korban divonis hukuman mati oleh pengadilan yang berlangsung satu sampai tiga menit di salah satu dari dua pengadilan militer di markas polisi militer wilayah al-Qaboun Damascus. Otoritas penjara mengumpulkan korban di sore hari dada hari dimana otoritas penjara membawa korban untuk digantung.

Pejabat berwenang mengatakan pada para tahanan bahwa mereka akan dipindahkan ke salah satu penjara sipil di Suriah, namun kenyataannya para korban justru dibawa ke sel bawah tanah di gedung merah, di tempat itu mereka dipukuli. Antara jam 12 malam hingga 3 dinihari, mereka dipindah ke gedung putih, sebuah fasilitas tahanan lainnya di tanah Saydnaya. Di gedung putih mereka dibawa ke ruang bawah tanah dan digantung. Mayat mereka diangkut ke atas truk, dipindahkan ke rumah sakit Tishreen untuk pendataan, dan akhirnya di bawa ke kuburan massal di kawasan militer dekat Damascus.

Eksekusi di penjara militer Sydnaya dilakukan sejak 2011 eksekusi secara rahasia, hanya diketahui segelintir orang termasuk penjaga dan petugas yang terlibat langsung serta pejabat tinggi Suriah. Kebanyakan tahanan lebih dahulu dihilangkan secara paksa, keluarga mereka tidak mengetahui keberadaan korban.

Para petugas penjara Saydnaya kepada Amnesti Internasional bahwa eksekusi di luar hukum terkait krisis di Suriah pertama kali dilakukan pada bulan September 2011. Sejak saat itu frekuensinya mengalami peningkatan. Bulan pertama biasanya dieksekusi antara 7 sampai 20 orang dalam kurun waktu 10 sampai 15 hari.

11 bulan berikutnya antara 20 sampai 50 orang dieksekusi sekali seminggu, biasanya dilakukan pada Senin malam. Enam bulan berikutnya antara 20 sampai 50 orang dieksekusi sekali atau dua kali per minggu, biasanya dilakukan hari Senin dan/atau Rabu malam. Saksi menyatakan frekuensi eksekusi berlangsung sama atau bahkan lebih sering dilakukan, setidaknya hingga Desember 2015.

Jika diasumsikan tingkat kematian pada waktu belakangan ini sama dengan sebelumnya, Amnesti Internasional memperkirakan telah dilakukan eksekusi dengan cara melanggar hukum di Sydnaya terhadap 5.000 sampai 13.000 orang dalam kurun waktu antara September 2015 hingga Desember 2015. Amnesti Internasional tidak memiliki bukti eksekusi setelah Desember 2015. Namun kegiatan pemindahan tahanan ke Sydnaya dan pengadilan militer masih berlanjut. Amensti Internasional tidak yakin eksekusi diluar hukum sudah dihentikan sejak Desember 2015, karena itu diperkirakan telah dilakukan eksekusi gantung terhadap ribuan oarang lainnya.

Berdasarkan pengakuan mantan petugas dan tahanan yang menyaksikan eksekusi, jumlah korban tewas dengan cara digantung meningkat setelah presiden memberi amnesti untuk tahanan setelah September 2011 yaitu pada 10 Januari 2012, 23 Oktober 2012, 30 Oktober 2013, dan 9 Juni 2014. (*)