maiwanews latar
maiwanews tulisan


Tembak Mati Tersangka Teroris oleh Densus 88 Dikritik

Logo Polrimaiwanews - Beberapa penggrebekan terhadap tersangka teroris di beberapa tempat berakhir dengan kematian para tersangka, menuai kritik keras masyarakat. Setara Institue bahkan berpendapat bahwa secara internal, kewenangan diskresi yang dimiliki Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri itu harus dievalusi setiap selesai lakukan operasi penggerebekan.

Hal itu disebabkan karena seringkali Densus 88 dalam melakukan eksekusi terhadap tersangka teroris tanpa proses peradilan. Tidak terkecuali terhadap tersangka teroris yang paling dicari seperti DR Azahari, Noordin M Top, maupun Dulmatin.

“Kepolisian harus melakukan penyelidikan internal apakah tindakan penindakan melalui ‘penembakan’ tersebut telah sesuai dengan prosedur atau tidak dan hasil penyelidikan internal itu perlu diinformasikan kepada publik,” ujar Ketua Setara Institue, Hendardi dalam rilisnya, Rabu, 19 Mei 2010.

Menurut Hendardi, meski telah diatur dalam UU No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian dan UU No.8 tahun 1981 tentang KUHAP bahwa Detasemen Khusus (Densus) 88 mempunyai kewenangan diskresi, tetapi semestinya setelah tindakan tersebut dilakukan, maka harus dilakukan penyelidikan internal untuk membuktikan apakah tindakan  itu telah melalui sebuah pertimbangan yang hati-hati dan apakan telah memenuhi standar operasi.

Apalgi jika mengingat bahwa dari sejumlah yang ditembak mati, alasan pembenaran Polisi melakkanya hanya sebatas melawan atau bahkan sekedar meronta tidak mau ditangkap.Itupun bukan dilakukan dengan tembakan sekedar melumpuhkan.

Salah seorang tersangka utama teroris yang dieksekusi Densus 88 di Banten beberapa waktu lalu, Dulmatin, saat ditembak mati hanya bermodal sebuah senjata gengam kecil jenis revolver dan sendiri pula.

Dari foto yang dirilis Densus, sejumlah kalangan melihat terdapat kejanggalan, karena Dulamatin meninggal dalam kondisi memegang senjata genggam dengan tangan kiri, padahal menurut informasi orang yang mengenalnya, ia bukan kidal.

Sebagai komponen masyarakat, siapapun berhak mengingatkan Polri agar tidak bertindak berlebihan, apalagi melanggar hak azasi manusia. “Mengingatkan untuk meningkatkan kinerja kepolisian dan penghormatan terhadap hak asasi manusia,” kata Hendardi.

Artikel Lainnya:

  1. Polri: Saat Tangkap Teroris, Densus tak Langgar HAM
  2. Kontras Desak Polri Evaluasi Keberadaan Densus 88
  3. Kontras: Sudah 13 Korban Salah Tembak Densus 88
  4. Densus Tembak Teroris Karena Berontak tak Mau Ditangkap
  5. Densus 88 Tembak Mati 3 Orang Tersangka Teroris

Beri Komentar

*
Hosting Gratis
BERITA TERBARU

Nama Korban Tewas Kecelakaan Bus di Cisarua
maiwanews - Hingga saat ini, jumlah korban meninggal akibat kecelakaan bus Karunia Bhakti di Cisarua, kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat telah

Gelar Pahlawan Untuk Soeharto Dinilai Sah
maiwanews - Mantan Presiden Indonesia, Soeharto, dinilai layak mendapat gelar sebagai pahlawan nasional. Mahkamah Konstitusi (MK) dalam uji materi 9

Nampaknya Ical Sudah Menemukan Sosok Cawapres
maiwanews - Dalam seminar Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA UII) di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis 9 Februari 2012, Ketua Umum DPP

Lawan Persema, Persebaya Tampil Tanpa Andik
maiwanews - Persebaya Surabaya menghadapi ujian berat saat menjamu Persema Malang Minggu 12 Fembruari 2012 nanti. Pada pertandingan Indonesia Premier

Indonesia Akan Beli 8 Helikopter Serang Apache
maiwanews -Pemerintah Indonesia terus melakukan penguatan sistem persenjataan yang dimiliki TNI. Setelah mewacanakan akan membeli 100 buah tank berat

Dana Pembelian Pesawat Kepresidenan Dari APBN
maiwanews - Sekertaris Kementerian Sekretaris Negara (Sesmensetneg), Lambock V. Nahattands, Kamis 9 Februari 2012 di Jakarta menegaskan dana

Pungli dan Korupsi Gerogoti Sektor Industri
maiwanews - Ekonomi Indonesia saat ini tumbuh dengan biaya tinggi, karenanya tidak memberi dampak signifikan bagi rakyat. Tingginya biaya ekonomi

Pameran Peluang Usaha
Artpro Exhibition akan menggelar pameran peluang usaha berjudul Indonesia Business & Franchise Expo pada 17-19 Februari 2012 di Convention Hall Tunjungan Plaza 3 Surabaya.

Wiping-Out Our National Islamic Cultural Identity
What is our cultural identity? It is according to many social studies, in short, our traditions, our values, our principles, our social habits, our religious concepts and perceptions

BERITA SEBELUMNYA

09/02/12 - 14:29

09/02/12 - 14:21

09/02/12 - 13:56

08/02/12 - 14:26

08/02/12 - 13:56

08/02/12 - 11:02

08/02/12 - 10:44

08/02/12 - 10:39

08/02/12 - 08:55

08/02/12 - 08:25

07/02/12 - 03:55

07/02/12 - 01:12

06/02/12 - 16:17

TERPOPULER BULAN INI

dibaca 87 kali

dibaca 58 kali

dibaca 56 kali

dibaca 53 kali

dibaca 49 kali

free counters