Vaksin Malaria Eksperimental Menargetkan Sel Hati

Nyamuk Malaria (Aedes Aegypti). (Foto: Ploypemuk)

maiwanews – Setelah beberapa dekade kekecewaan dalam upaya mengembangkan vaksin malaria, para peneliti mulai melihat hal menjanjikan dalam pendekatan baru. Sementara sebagian besar vaksin memicu pertahanan tubuh untuk menghasilkan antibodi melawan kuman penyebab penyakit, pendekatan baru ini merekrut cabang sistem kekebalan dengan cara sama sekali berbeda.

Jika berhasil, eksperimen ini bisa membuka rute baru untuk melawan penyakit lain, termasuk hepatitis dan mungkin HIV, virus penyebab AIDS.

Berdasarkan catatan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), hampir 450.000 orang meninggal karena malaria setiap tahun. Parasit penyebab penyakit semakin menjadi resistan terhadap obat. Sejauh ini satu vaksin sukses dikembangkan, tetapi hanya mencegah sekitar sepertiga dari kasus dalam studi klinis.

Para ahli telah memutuskan melakukan uji coba vaksin baru di Ghana, Kenya, dan Malawi.

Pada dasarnya ada dua cara untuk mencegah kuman dari infeksi, mencegah mereka masuk ke dalam sel dengan antibodi, atau membunuh mereka di dalam sel dengan T-sel. Hal itu disampaikan Stephen Hoffman, CEO Sanaria, perusahaan pengembang salah satu vaksin.

Sanaria melihat keberhasilan dengan menargetkan parasit malaria di dalam sel-sel hati. Hoffman dan tim mencoba menyuntikkan parasit (setelah dilemahkan dengan radiasi) ke dalam kulit atau otot pasien, namun tidak berhasil. Keberhasilan didapat setelah disuntikkan langsung ke vena.

Parasit bergerak menuju hati, di mana mereka memicu reaksi kekebalan. Sel-sel pertahanan membunuh sel-sel hati yang terinfeksi parasit malaria. Dan pertahanan hati sudah siap ketika dihadapkan pada hal-hal nyata beberapa bulan kemudian.

Sebagian besar percobaan awal telah dilakukan pada tikus dan kera. Ketika Hoffman dan rekannya melakukan aktifitas serupa terhadap beberapa pasien manusia, sebagian besar terlindungi dari infeksi.

Adrian Hill, direktur Jenner Institute di Universitas Oxford, mengatakan merekrut sel-sel kekebalan di hati sangat efektif karena tidak perlu menunggu sampai sistem kekebalan tubuh mengetahui bahwa ada parasit di hati baru kemudian sistem kekebalan mrespon, ini dapat memakan waktu berhari-hari dan kadang-kadang berminggu-minggu. Akibatnya, saat sistem kekebalan tubuh merespon, malaria sudah hilang. Malaria hanya menghabiskan seminggu di hati, dan kemudian keluar dalam darah menyebabkan penyakit.

Kelompok Hill baru saja menerbitkan sebuah penelitian di jurnal Science Translational Medicine dimana sel kekebalan dalam hati dipicu dengan menggunakan protein dari parasit.

Para ilmuwan berharap mendapatkan pemahaman lebih baik tentang sistem vaksin cellular immunity ini. Memanfaatkan sistem ini dapat membantu mengatasi penyakit hepatitis dan infeksi HIV. Obat-obatan dapat mengendalikan infeksi HIV tetapi tidak dapat menghilangkannya dari tubuh. (BBG Direct/VoA)