maiwanews logo maiwanews
Senin, 8 Maret 2010
admin


Warga Serang Mahasiswa, Mirip Yang Terjadi di Era Ordebaru

Makassar – Konflik antara mahasiswa di berbagai kampus dengan warga beserta polisi di Makassar Kamis dan Jumat lalu sebagai aksi lanjtan dari demo mahasiswa mahasiswa se Makassar menuntut penuntasan kasus Century berbuntut panjang.

Aksi solidaritas mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam terjadi serentak di beberapa kota di Indonesia mengecam penyerangan oknum polisi ke wisma HMI cabang Makassar, aksi yang semuanya berlangsung ricuh tersebut bukan hanya terjadi di kota-kota besar tapi juga terjadi di beberapa kota yang relatif kecil.

Upaya perdamaian yang diinisiasi Polda Sulselbar, Pemda Metro Makassar, alumni HMI dan anggota HMI Makassar telah dilakukan di kediaman Walikota Makassar, tentu hasilnya ada, namun secara keseluruhan belum memberikan rasa puas terutama di kalangan mahasiswa.

Ketidak puasan tersebut disebabkan karena peristiwanya sendiri tidak lagi sekedar soal penyerangan wisma HMI semata, namun muncul masaalah baru yang tak kalah penting yakni kecurigaan pihak mahasiswa tentang adanya upaya terencana pihak tertentu membenturkan antara mahasiswa dengan warga.

Masaalahnya makin serius oleh karena konflik warga dan mahasiswa berakibat buruk terhadap pencitraan mahasiswa dan gerakan mahasiswa itu sendiri, bukan hanya terhadap gerakan mahasiswa lokal tapi nasional. Bahkan ada upaya menggiring opini seakan-akan warga umumnya benci dengan demonstrasi.

Sejauh ini, mulai terbentuk stikma buruk atas gerakan mahasiswa yang pada awalnya secara masif  sedang fokus berjuang mengawal proses penuntasan kasus Bank Century yang bergulir secara politik di DPR.

Persepsi bahwa demo mahasiswa dengan menutup jalan mulai ditentang warga, secara tidak sadar mulai terbentuk seiring pemberitaan secara berulang-ulang bentrok antara waga dengan mahasiswa UIN Alauddin dan UNM.

Hal tersebut disebabkan karena beberapa pihak termasuk polisi secara aktif menjelaskan di berbagai media bahwa tidak ada upaya membenturkan warga dengan mahasiswa seperti yang dituduhkan.

Sementara pihak mahasiswa berpendapat lain, menurut mereka, warga yang menyerang mahasiswa adalah warga binaan polisi, mereka memiliki bukti bahwa warga yang menyerang mahasiswa di UIN dan UNM bukan warga sekitar dan pelemparan warga di dua tempat demo dilakukan oleh orang yang sama.

Padahal menurut mahasiswa, warga justru simpati dengan demo yang mereka lakukan selama ini. Hal tersebut coba dibuktikan ketika mahasiswa UMI dan 45 Makassar lakukan demo bersama di Jl. Urip Sumoharjo Sabtu 6 Maret 2010 yang berlangsung sejak sore hingga malam yang justru dilakukan bersama warga sekitar. Meski dilakukan penutupan jalan, demo tersebut tanpa pengawalan polisi dan berlangsung lancar.

Perdebatan tentang ada atau tidaknya mobilisasi warga untuk melawan mahasiswa yang sedang demo akan terus berlanjut dan nampaknya tidak akan terjawab, meski Tim Pencari Fakta telah dibentuk polisi setempat.

Akan tetapi jika ingin memahami apa sebenarnya yang terjadi dengan massa misterius yang nampak jelas dibiarkan polisi di Makassar, ada baiknya kita coba melihat beberapa kejadian ketika mahasiswa Makassar lakukan demo besar-besaran di era Ordebaru seperti yang disampaikan seorang mantan aktivis Makassar.

Menurut catatan, pada demo mahasiswa besar menjelang Pemilu 1982 itu, sekelompok warga dari sebuah asrama  menyerang kampus UMI Jl. Kakatua yang bertahan di dalam kampus, mahasiswa UMI kemudian membalas menyerang asrama tersebut hari berikutnya. Atas kejadian itu, di kedua belah pihak jatuh korban tewas.

Pada demo yang sama, ketika massa mahasiswa UMI lakukan longmarch menuju kampus UVRI JL. Gunung Bawakaraeng untuk menyatukan kekuatan aksi, massa UMI kocar-kacir ketika dihadang massa yang berasal dari sebuah asrama ketika melalui Jl. Sam Ratulangi.

Hampir sepuluh tahun kemudian, ketika terjadi lagi demo besar di Makassar yang menolak kebijakan wajib helm pengendara sepeda motor. Ketika itu, mahasiswa di semua kampus menghadang dan memaksa setiap pengedara motor yang memakai helm agar melepaskannya.

Namun sekelompok massa dari sebuah asrama di dekat Kodim Makassar lakukan aksi sebaliknya, mereka justru menganiaya pengendara motor yang melintas yang tidak pakai helm.

Memahami kejadian di atas dapat dilihat sebagai aksi kontrademo yang dilakukan karena keterikatan emosional. Demo sejenis di kota lain yang dikenal sebagai demo tandingan, yakni sejumlah massa menyuarakan tema yang berlawanan, sementara demo tandingan atau kontardemo ala Makassar, terjadi karena alasan subjektif, massa lakukan penyerangan atau penghadangan secara fisik terhadap peserta demo.

Lalu apa kaitan pola kontrademo puluhan tahun lalu itu denga bentrok warga denga mahasiswa di UIN dan UNM? Melihat cirinya, cenderung kejadian Kamis di UIN dan Jumat di UNM mirip dengan kontrademo yang sering terjadi sejak era Ordebaru puluhan tahun lalu, yakni sebuah aksi solidaritas massa atas nama warga yang dibiarkan aparat.

Bentrok antara sekelompok warga denga mahasiswa puluhan tahun lalu itu tidak diliput media secara luas sehingga dampak kriminalisasi gerakan mahasiswa seperti yang terjadi sekarang tidak terjadi.

Belajar dari kejadian di atas, dengan janji polisi akan mengawal demo dengan cara persuasif, diharapkan pada aksi damai besar-besaran yang direncanakan akan berlangsung di Makassar Senin 8 Maret 2010 berlangsung benar-benar damai.

Hal tersebut dapat dicapai hanya jika mahasiswa tidak mudah terprovokasi dalam suasana dan bentuk apapun, apalagi aksi itu akan disaksikan dan diamati oleh masyarakat Indonesia secara langsung.


ARTIKEL LAINNYA

Nelson Mandela Meninggal Dunia di Usia 95 Tahun
Jakarta Segera Punya Bus Wisata, Bertingkat dan Gratis
Seorang Jamaah Haji Melahirkan di Pemondokan Makkah
Menag: Perhatian Presiden Putin Terhadap Islam di Rusia Sangat Baik
Serangan Hacker dari Indonesia Terbanyak di Dunia
PM Israel Serukan Sanksi Terhadap Iran Diperkuat
Polisi Tangkap Bidan Penjual Bayi di Bandung
Harga Mahal, Impor Kedelai Bebas Bea Masuk

Politik Uang Suburkan Korupsi

cover2 300

BERITA TERBARU

3 Syarat Pimpinan Komisi III Versi IDM

Komentar Ahok atas Hadirnya Prabowo pada Pelantikan Jokowi-JK

Agenda Pertama Jokowi Sebagai Presiden, Terima Kepala Negara

Wasekjen Hanura: Jangan Ganggu, Biarkan Jokowi Bekerja

Prabowo Subianto Hadiri Pelantikan Jokowi-JK

Jokowi-JK Resmi Gantikan Sby-Budiono Sebagai Presiden dan Wakil Presiden

Jadwal Acara Pelantikan Jokowi-JK di Gedung MPR-DPR


Free counters!