BNPB Peringatkan Potensi Bencana Geologi di Lampung

Tsunami di Selat Sunda berdampak di Lampung dan Banten, 2018. (Foto: BNPB)

maiwanews – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperingatkan potensi bencana geologi tingkat tinggi di Provinsi Lampung. Untuk mengantisipasi, BNPB meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memperkuat mitigasi serta meningkatkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

Penelitian dan kajian Direktorat Pemetaan dan Risiko Bencana BNPB menemukan setidaknya tiga potensi risiko dapat memicu terjadinya bencana alam di wilayah Lampung.

Pertama adalah aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Hingga kini masih terjadi erupsi hingga level III atau siaga. Tahun 2018 lalu fenomena alam ini memicu tsunami di Selat Sunda akibat longsor bawah laut. Sebelumnya Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1883.

Plt Direktur Pemetaan dan Risiko Bencana, Abdul Muhari, mengatakan kekuatan letusan Gunung Krakatau setara empat kali Tsar Bomba, atau setara 3000 kali bom atom Hiroshima 1945. Hal itu disampaikan hari Jumat 19 Maret dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) dan Penanggulangan Bencana di Provinsi Lampung.

Potensi risiko kedua yaitu Sesar Sunda di Selatan Lampung dan Pulau Jawa bagian Barat. Kajian Muhari bersama tim menemukan bahwa segmen Sesar Sunda dapat melepaskan energi hingga 9 magnitudo. Pelepasan energi itu berpotensi memicu tsunami sampai setinggi 8 sampai 10 meter.

Potensi risiko ketiga adalah ancaman gempa darat akibat lepasan energi sesar aktif, diperkirakan jika sesar aktif melepaskan energi dapat memicu gempa dengan skala magnitudo 6,9 hingga magnitudo 7,3.

Muhari menjelaskan sesar tersebut dapat dibagi menjadi: Sesar Enggano, Kumering Selatan, Kumering Utara, Barumun, Ujung Kulon, Semangko Timur, Semangko Barat, dan Semangko Graben.

Dengan penjabaran itu Kepala BNPB Doni Monardo meminta Gubernur Provinsi Lampung Arinal Djunaidi, bupati, dan walikota di provinsi tersebut beserta jajarannya untuk mengambil langkah antisipatif, dimulai dari sosialisasi, edukasi, dan mitigasi kepada masyarakat. (BNPB)