Butuh Waktu Beberapa Bulan Pulihkan Ekonomi Vietnam

maiwanews – Pemulihan ekonomi Vietnam akan membutuhkan waktu berbulan-bulan, meskipun kasus COVID-19 di negara itu terbilang rendah. Pemerintah Vietnam melaporkan semakin sedikit kasus baru virus korona setiap hari sejak pertengahan April.

Sekolah di Vietnam kini dibuka kembali, demikian halnya restoran-restoran kecil, masyarakat mulai beraktifitas di pusat ekonomi, Ho Chi Minh City.

Kasus Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di negara berpenduduk 96 juta itu dilaporkan hanya 271. Vietnam telah mengendalikan kasus virus korona dengan menutup perbatasannya dengan China sewaktu wabah global mulai terjadi, melakukan karantina terhadap puluhan ribu orang, dan melacak kontak para pasien.

Para pakar di negara di Asia Tenggara memprediksi dengan dibukanya secara bertahap pembatasan-pembatasan, akan merangsang permintaan, karena masyarakat kembali memperoleh uang setelah sebelumnya kehilangan lapangan kerja dan para karyawan dirumahkan untuk sementara pada bulan April.

Tetapi, meski pernah marak, para pakar memprediksi ekonomi Vietnam tidak akan mendekati tingkat pertumbuhan sebelum wabah COVID-19 merebak hingga setidaknya pada semester ke-dua tahun ini. Dijelaskan bahwa hal ini dikarenakan sepinya kedatangan turis asing serta kurangnya permintaan ekspor dari luar negeri.

Industri pariwisata Vietnam terhenti pada 1 April menyusul kekhawatiran pemerintah akan risiko masuknya turis terinfeksi virus korona. Ekspor Vietnam juga menurun seiring kurangnya permintaan dari negara pengimpor karena juga dilanda pandemi korona.

Pendiri Infocus Mekong di Ho Chi Minh City, Ralf Matthaes, mengatakan dengan sedikit keberuntungan Vietnam akan kembali normal pada bulan Juli. Pulihnya ekonomi pertama kali akan dirasakan industri ritel dan penerbangan. Sementara jumlah tamu hotel masih rendah.

Perkiraan Bank Pembangunan Asia, ekonomi Vietnam akan tumbuh 4,8 persen tahun ini, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yaitu mendekati 7 persen. Senin 4 April, Perdana Menteri (PM) Nguyen Xuan Phuc mengatakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) bisa melebihi 5 persen, namun para analis swasta memperkirakan angkanya hanya 2 hingga 3 persen. (VoA/uh/ab)