Emrus: Kurang Tepat, Memasangkan Kata Berita atau Informasi dengan Hoaks

20220106-stop-hoax-maiwanews-z
Banner kampanye stop hoaks.

maiwanews – Komunikolog Indonesia Dr Emrus Sihombing angkat suara terkait maraknya penggunaan diksi “berita hoaks” dan “informasi hoaks”. Dalam keterangannya hari Kamis (06/01/2022), pakar komunikasi politik tersebut menguraikan pemahaman kata berita, informasi, serta hoaks (hoax).

Memasangkan kata berita atau informasi dengan hoaks dinilai kurang tepat. Menurut Emrus Sihombing, ketiga kata itu memiliki makna berbeda. Berita (news) didasarkan pada fakta, data, dan bukti melalui proses pemeriksaan dan cek ulang atau dikenal dengan istilah check and recheck. Proses pengecekan itu dilakukan dengan ketat.

Sedikit berbeda dengan berita, informasi berbasis fakta atau kejadian atau peristiwa, informasi mengurangi ketidakpastian. Adapun hoaks adalah suatu kebohongan.

Dengan demikian, Emrus menegaskan bahwa berita atau informasi posisinya berseberangan dengan hoaks. Berita dan informasi bukan hoaks, demikian pula sebaliknya, hoaks bukanlah berita maupun informasi.

Hoaks sebagai kebalikan dari berita atau informasi, menurut Emrus sangat berbahaya dalam tatanan sosial berbangsa dan bernegara. Pemasangan kata berita atau informasi dengan hoaks sering dilakukan terus menerus sehingga seolah diterima sebagai suatu kebenaran. Hoaks disebut sebagai kejahatan luar biasa.

Kebohongan dapat memicu konflik dan perpecahan sosial, terutama benturan horizontal di tengah masyarakat antara satu pihak dengan lainnya. Suatu negara dapat terpecah akibat penyebaran hoaks secara msif dan tak terkendali. Daya rusak kebohongan bagi Emrus lebih dahsyat dari perbuatan korupsi.

Perilaku korupsi menggerogoti APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), artinya tindakan korupsi merusak materi atau barang dan/atau uang. Sedangkan hoaks merusak peta kongisi dan persepsi orang perorangan. Pada akhirnya hoaks membentuk opini publik bersifat destruktif. Opini demikian bisa memicu konflik horizontal, ini relatif lebih sulit dikendalikan dibanding konflik sosial vertikal.

Acap kali hoaks menimbulkan ekslusivitas dan mempertajam perbedaaan antar kelompok satu dengan lainnya di tengah masyarakat. Hal itu berpotensi mengganggu, mengubah, atau mengganti ideologi suatu negara. Karena itu, Emrus mengimbau seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama melawan hoaks, baik itu dinarasikan secara explisit maupun implisit. (Emrus Corner/z)