Menbudpar Mendukung Pelestarian Kesenian Daerah

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Ir. Jero Wacik, SE, selalu mendukung kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, lembaga/sanggar seni, dan pemerintah daerah dalam melestarikan kesenian di daerahnya. Salah satunya adalah lomba tari Pendet yang dilaksanakan oleh Pemprov Bali bekerjasama dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Lomba tari Pendek tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Jabodetabek yang berlangsung pada Minggu (25/10) di Anjungan Bali, TMII tersebut diikuti 33 sanggar dengan jumlah peserta sebanyak 237 anak. Acara tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur Bali, AA Puspa Yoga dan dihadiri Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) Depbudpar Tjetjep Suparman, Ketua DPRD Bali Cok Ratmadi, Direktur Operasional TMII, Direktur Tradisi dan Direktur Kesenian.

Kegiatan lomba yang berlangsung meriah tersebut menurut rencana akan dilaksanakan tiap tahun. Hal ini merupakan pelaksanaan kebijakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) dalam upaya pelestarian tari daerah. Pelestarian mengandung arti tiga hal yaitu perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan.

Perlindungan mengandung makna bahwa melindungi jenis dan bentuk kesenian sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan gejala yang menimbulkan kerusakan dan kepunahan. Maka kegiatan yang dilakukan seperti penggalian, pencatatan, bimbingan teknis dan pemeliharaan.

Pengembangan mempunyai arti mengembangkan jenis dan bentuk kesenian sebagai upaya menyerbarluasan dan pendalaman serta peningkatan mutu budaya bangsa. Kegiatan yang dilakukan revitalisasi kesenian yang akan punah, pengkajian, pemberdayaan SDM kebudayaan.

Pemanfaatan mempunyai arti memfaatkan untuk kepentingan kesejahtaraan masyarakat lahir dan batin untuk kepentingan sosial, ibadah, pendidikan, ilmu pengetahuan, pariwisata, dan ekonomi. Kegaitan yang dilaksanakan adalah festival-festival kesenian, IPAM, pameran, dan pekan budaya.

Di erah otonomi daerah ini, di mana sudah ada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Taman Budaya dan Dewan Kesenian Daerah diharapkan dapat lebih fokus melakukan pelestarian kesenian di daerahnya masing-masing. Sementara peran pemerintah pusat dalam hal ini Depbudpar memberikan fasilitasi berupa bimbingan, dorongan, bantuan. Depbudpar melalui Direktorat Kesenian, Ditjen NBSF melakukan kegiatan merajut kembali dalam bentuk fasilitasi kegiatan berskala nasional seperti Festival Seni Pertunjukan Indonesia (FSPI), Lomba Cipta Seni, IPAM, dan Art Summit.

Kesenian yang hidup dan berkembang di daerah merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya. Melalui kesenian, sebagai bangsa dapat menunjukan jati dirinya. Agar keberadaannya sebagai unsur budaya dapat memberikan sumbangan terhadap kehidupan bangsa baik secara jasmani maupun rohani. Masyarakat sebagai pelaku dan pemilik seni baik secara perseorangan maupun bersama-sama memiliki tanggunjawab terhadap maju-mundurnya kesenian daerahnya. (budpar)