Militer Kuat Di Masa Damai, Perlukah?

Perlukah suatu negara membangun militer kuat dimasa damai. Singapura dengan luas wilayah sangat kecil dikenal memiliki armada tempur yang canggih dan kuat, jauh dibanding Indonesia yang justeru memiliki luas wilayah yang sangat besar. Negara yang dituding menjadi tempat persembunyian para koruptor BLBI itu secara berkala memperkuat armada perangnya, bahkan dengan alasan demi pembaharuan persenjataan, baru – baru ini Singapura menambah lagi kekuatan tempurnya udaranya dengan membeli 12 pesawat jenis F15 dari Amerika. Sementara itu Angkatan Udara Indonesia dari hanya memiliki satu skuadron F16 tinggal beberapa buah yang layak terbang, rencana melengkapi satu skuadron pesawat tempur canggih Sukhoi buatan Rusia di era Megawati, baru terealisasi 4 buah. Kondisi ekonomi yang sejauh ini tidak juga kunjung membaik menjadi alasan utamanya. Untuk menyiasati keterbatasan itu, TNI terpaksa tetap memberdayakan pesawat tempur F5E Tiger yang dikenal sudah uzur di samping 2 skuadron Hawk 200 yang lumayan canggih.

Kemampuan pertahanan RI khususnya kemampuan dalam bidang peralatan tempur mencapai titik terendah selama kurun waktu lebih dari sepuluh tahun terakhir. Kenyataan itu setidaknya tergambar pada komentar melalui media para petinggi TNI dan Dephan ketika menghangat kasus DCA antara Indonesia dengan Singapura. Dalam perjanjian yang dibayar dengan perjanjian ekstadisi itu, pemerintah Indonesia setuju “memberikan” sebagian wilayah Indonesia kepada Militer Singapura untuk jadi area latihan, dalam latihan itu TNI diikutsertakan dengan memanfaatkan peralatan dan fasilitas militer canggih milik Singapura. Sangat terlihat dalam kasus itu betapa TNI yang kita percaya menjaga kedaulatan wilayah dan wibawa Indonesia, secara psikologis begitu lemah dan takluk di hadapan militer negara kecil seperti Singapura, meski perjanjian itu akhirnya mengambang karena kuatnya penolakan di dalam negeri Indonesia terutama dari DPR-RI.

Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin negara besar dengan wilayah darat dan laut yang luas, kekayaan laut dan tambang serta hutan yang luar biasa, serta jumlah penduduk yang melebihi 220 juta jiwa seperti Indonesia bisa dibiarkan kekuatan militernya begitu lemah? Untuk menjaga dan mengawal wilayah seluas itu butuh tenaga dan kekuatan yang memadai. Padahal di saat yang sama kita memiliki sejumlah Industri Strategi seperti PTDI, PAL dan Pindad yang sejauh ini telah mampu memproduksi berbagai peralatan tempur, jauh sebelum negara seperti Iran mampu membuat jet tempur canggih, PTDI sudah mampu memproduksi pesawat versi militer untuk pemerintah Malaysia dan Pakistan. Sayangnya perusahaan – perusahaan negara tersebut sepertinya dibiarkan bergelut dengan kesulitannya sendiri.

Kalau semua orang marah ketika beberapa waktu lalu DPR gagal mengesahkan rencana anggaran APBN hingga 20 %untuk pendidikan sesuai amanat undang – undang, mengapa pada saat yang sama ketika kemampuan pertahanan kita yang sangat rendah dari segi kemampuan peralatan tempur, tidak ada sedikit saja pihak yang berani menyatakan keprihatinannya? Padahal di samping untuk menjaga kedaulatan wilayah yang begitu luas dan kompleks, kita sedang menghadapai masa – masa dengan tingkat perlakuan dan penghargaan negara lain kepada kita yang sangat rendah.

Dalam diplomasi maupun kasus hukum Internasinal, kita selalu kalah dan diperlakukan tidak adil oleh negara bahkan oleh individu warga negara lain terhadap warga negara kita di luar negeri. Banyak kasus yang bisa dijadikan contoh, sebutlah seperti Indonesia yang pernah dikadali ramai – ramai di bawah payung PBB bernama UNAMET pada jajak pendapat di Timor Timur, kitapun tercatat kalah telak di Mahkamah Internasional Belanda atas pulau Sipadan dan Ligitan yang puluhan tahun disengketakan, berkali – kali warga kita diperlakukan semena – mena bahkan beberapa menyebabkan kematian di negara lain, tidak hanya terhadap warga biasa seperti TKI tetapi juga terhadap warga terhormat seperti keluarga Diplomat kita, dan seorang Gubernur seperti Sutiyoso bisa diperlakukan dengan tidak hormat di Australia walau kedatangannya ke negeri Kanguru tersebut atas undangan resmi pemerintahnya. Kasus lain seperti pelanggaran wilayah pesawat militer asing sering juga terjadi, sebuah kapal induk Amerika yang beukuran raksasa bisa masuk ke wilayah perairan kita tanpa izin dan nyaris tidak diketahui oleh militer kita. Bahkan sekedar menjaga kekayaan budaya dan seni seperti lagu Rasa Sayange, Kuda Kepang, Angklung, Tempe dan Batik untuk tetap menjadi milik kita tidak mampu dilakukan. Semua negara tiba – tiba jadi merasa tidak perlu takut membuat kesalahan dengan Indonesia.

Kekuatan Militer dan pertahanan bukan hanya untuk perang, pada saat perang, kecanggihan peralatan perang terbukti tidak selalu menentukan kemenangan dan kemampuan bertahan. Sebutlah seperti perang Vietnam dengan Amerika, perang Afganistan dengan Uni Sovyet (Rusia), Iraq dengan Amerika dan Inggris, bahkan perang kemerdekaan Indonesia dan perang agresi Belanda ke dua. Kekuatan militer dengan peralatan canggih justeru lebih banyak diperlukan saat damai untuk keperluan perang psikologi. Di masa perang ada ungkapan bahwa sejarah dan kebenaran dibuat untuk kepentingan negara pemenang perang, sedang di masa damai, harga diri bangsa kebenaran diberikan kepada negara pemenang gertak (perang psikologi). Pada perang fisik, yang berhadapan adalah kekuatan senjata, di belakanngnya ada kekuatan ekonomi dan politik yang menopang, sedang pada perang non fisik, yang berhadapan adalah kekuatan politik (HAM atau Demokrasi) dan ekonomi (Pinjaman, Bantuan atau Investasi), di belakangnya ada kekuatan militer sebagai alat penggertak.

Perang non fisik di masa damai jauh lebih sulit dan memerlukan daya dan waktu yang lebih besar dibanding perang fisik. Perang fisik mengejar kemenangan, sedang perang non fisik melahirkan stabilitas jangka panjang, baik itu ekonomi, politik, keamanan, sosial dan lain – lain. Sebuah negara pasti cenderung memaksakan kepentingannya kepada negara lain dengan menekan secara psikologi lawannya dengan cara yang sehalus mungkin.

Itulah sebabnya mengapa sejauh kita selalu kalah dan jadi pecundang dengan negara lain tentang hal apapun. Lalu mengapa kita tidak segera memberi prioritas pada upaya penguatan pertahanan kita secepat mungkin sama cepatnya upaya penguatan ekonomi dan pendidikan? Bukankah upaya menjaga tanaman dari gangguan hama dan pencurian sama pentingnya dengan adanya kemampuan menyuburkan dan menumbuhkan tanaman itu? Mari kita belajar pada apa yang dilakukan petani dalam memahami sistem pertahanan dan gertak menggertak, orang – orangan sawah mutlak tetap ada meski bukan untuk menangkap apalagi untuk mencelakai burung pencuri & pengganggu padi.