Pemerintah Upayakan Impor Vaksin, Atasi Virus PMK

ilustrasi-vaksin
Ilustrasi vaksin.

maiwanews – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak membuat masyarakat peternak yang mendekati Hari Raya Idul Adha agak risau. Hal ini membuat Pusvetma (Pusat Veteriner Farma) Surabaya merupakan salah satu UPT (Unit Pelaksana Teknik) di bawah Kementerian Pertanian (Kementan) Surabaya menargetkan pembuatan vaksin PMK yang selesai sekitar bulan Agustus 2022. Sambil menunggu selesai pembuatan vaksin dan uji klinis, pemerintah mengambil langkah dengan mengupayakan impor vaksin PMK dari Luar negeri.

Hal ini disampaikan koordinator Pemasaran dan Distribusi Pusvetma, drh SNR Anieka Rochmah saat ditemui di Kantor di Surabaya, (08/06/2022). Ia mengatakan, pemerintah tidak tinggal diam terhadap virus PMK yang menyerang. Langkah yang diambil pemerintah dengan mendatangkan vaksin PMK dari luar negeri, merupakan langkah menunggu selesainya pembuatan vaksin dari Pusvetma. “Masih tahap pembahasan dan kajian para tim ahli dan pakar, tetang spesifikasi vaksin yang cocok dengan virus PMK yang terjadi di Indonesia, termasuk menentukan vaksin dari negara mana yang akan didatangkan,” jelas Anieka.

Anieka menghimbau, untuk peternak bisa mengisolasi hewan yang terdeteksi terkena virus PMK dari hewan yang sehat. Cara lain agar penularan virus tidak meluas dengan cara penyemprotan disinfektan pada kandang ternak dengan menggunakan air yang sudah dicampur Citrun Citric Acid.

“Kasus kematian hewan ternak karena virus PMK relatif rendah, dibawah lima persen” kata Anieka. Jadi tambahnya, masyarakat peternak tidak perlu risau serta panik menghadapi Virus PMK ini. Apalagi menjelang Hari Raya Idul Adha 1443 H yang dimana permintaan hewan ternak khususnya sapi cukup besar.

Dengan vaksinasi menjadi solusi dan harapan peternak hewan seluruh Indonesia, diharapkan wabah PMK yang menyerang peternak bisa segera disembuhkan dan Indonesia kembali menjadi negara bebas PMK.

Sebagai informasi, Pusvetma pernah melakukan pengembangan produksi vaksin untuk membebaskan Indonesia dari PMK di tahun 1983-1986, dari pengalam tersebut Pusvetma dapat mengembangkan vaksin dalam negeri untuk mengendalikan PMK ke depan di Indonesia. Sedangkan proses pembuatan vaksin PMK, menggunakan teknologi tissue culture dengan sel BKH 21. Untuk pengembangan vaksin ini memerlukan proses, sebab Pusvetma sudah tidak memproduksi vaksin tersebut sejak Indonesia sudah dinyatakan bebas dari PMK tanpa vaksinasi oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) tahun 1990. (i)