Perempuan Penjaga Perdamaian, dari Patroli hingga Masak Rendang

maiwanews – Misi perdamaian dunia tidak hanya dilakukan kaum laki-laki, bahkan perempuan memiliki peran penting sebagaimana dilakukan prajurit perempuan Indonesia. Dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), mereka tidak hanya membantu dalam upaya pencegahan konflik, tapi juga melakukan pembinaan masyarakat.

UNIFIL dibentuk pada 1978 untuk menjamin gencatan senjata antara Lebanon dan Israel.

Lettu Rima Eka Tiara, bertugas patroli di area garis biru (Blue Line), ini adalah garis demarkasi antara Lebanon dan Israel. Bersama rekan-rekannya patroli dilakukan dengan berkendara mobil atau berjalan kaki, dari desa ke desa, di Al Qusayr dan sekitarnya.

Keberadaan petugas penjaga perdamaian adalah untuk memastikan tidak ada kontak fisik atau kontak mata dari Israel dengan Lebanon, ungkap Lettu Rima (dikuti VoA Jumat 21 Agustus). Ia mengungkapkan bahwa kehadirannya bersifat imparsial sesuai mandat UN 1701.

Sementara Serda Yazella Agustin mengungkapkan bahwa selalu ada rasa khawatir saat berpatroli terutama di daerah rawan, beruntung orang Indonesia disukai oleh masyarakat Lebanon.

Jika sedang bertugas melakukan patroli atau menjaga pos, Lettu Rima dan Serda Yazella melakukan pembinaan masyarakat, termasuk layanan kesehatan. Mereka juga melakukan pelatihan penegmbangan diri, pertunjukan budaha, hingga pelajaran memasak. “Kita sudah pernah mengajarkan bagaimana memasak rendang, tapi karena ada bahan-bahan tertentu tidak ditemukan disini, rasanya tidak seperti saat memasak di Indonesia”, ujar Serda Yazella.

Namun sejak pandemi corona, banyak aktivitas interaksi langsung ditangguhkan. Namun tetap terjalin komunikasi dengan ketua-ketua desa binaan. (VoA/vm/em/hj)