Petisi 28: Satgas Antimafia Hanya Pencitraan SBY

maiwanews – Satgas Antimafia Hukum dinilai cenderung hanya sebagai proyek pencitraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Karena itu, Petisi 28 akan menggugat keberadaan Satgas yang diketuai oleh Kungtoro Mangkusubroto itu.

Keppres No 37 Tahun 2009 yang menjadi dasar pembentukan Satgas Antimafia Hukum akan digugat ke Mahkamah Agung (MA). Gugatan ini rencananya akan dilayangkan Selasa, 22 Juni 2010 mendatang.

Dasar pengajuan gugatan adalah pasal 4 ayat (1) UUD 1945, bahwa kewenangan Presiden menurut UUD tidak disebut adanya institusi Satgas. Sementara dalam UU No 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dari KKN yang sudah dilaksanakan dengan pembentukan badan Ombudsman.

Pelaksanaan tugas Satgas Antimafia selama ini dinilai oleh Petisi 28 justru cenderung melakukan intervensi hukum, bahkan kadang terlihat lebih powerfull dibanding KPK

Haris juga mempertanyakan kegiatan dan prestasi Satgas selama ini. “Ini sebagai sebuah proyek citra building untuk menunjukkan kepada rakyat seakan-akan SBY telah bekerja menegakkan hukum,” kata Haris.

Hal tersebut diungkapkan anggota Petisi 28, Haris Rusly dalam jumpa pers di Doekoen Coffee, Jl Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu, 19 Juni 2010.

Menurut Haris, SBY seharusnya jangan membentuk lembaga yang terkesan antah-berantah dalam rangka penegakan hukum. Jika terjadi kekacauan hukum, sebagai kepala negara, presiden seharusnya mengganti pucuk pimpinan institusi penegak hukum sebagai hak politknya.

Sejauh ini, apa yang telah dilakukan Satgas Antimafia belum menunjukkan prestasi apa-apa. Menurut Haris, pengungkapan kasus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan bukan prestasi Satgas. Itu adalah prestasi Susno Duadji yang telah dengan berani ambil resiko membongkarnya.

Haris juga mengkritik tentang pengungkapan kasus pajak yang hanya berputar pada gorup Bakrie saja, sementara kasus Century dan pajak Paulus Tumewu tidak disentuh sama sekali. “Kasus Century dan kasus pajak Paulus Tumewu tak disentuh Satgas,” cetus Haris Rusli.