Saksi Ahli dari Trisakti: Penembakan Empat Laskar FPI Tindakan Disengaja

maiwanews –  Penembakan yang menyebabkan kematian terhadap empat laskar Front Pembela Islam (FPI) di mobil Xenia oleh terdakwa Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella merupakan tindakan disengaja.

Demikian diungkapkan saksi ahli hukum pidana Universitas Trisakti, Dian Adriawan  dalam lanjutan persidangan kasus unlawfull killing terhadap Laskar FPI di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (11/1/2022).

Sebagai saksi ahli, Dian diminta menjelaskan dakwaan primer Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP yang berbunyi “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena makar mati, dengan hukuman penjara selama- lamanya 15 tahun.”

“Itu dikaitkan dengan Pasal 338 itu masuk (kategori kasus penembakan), bisa sengaja sebagai tujuan, atau sengaja dengan kesadaran akan kemungkinan itu dua hal terkait kesengajaan untuk Pasal 338,” kata Dian dalam keterangannya.

Dian berpendapat, dalam kasus ini terdakwa dapat dikenakan Pasal 338 KUHP sebab perbuatan terdakwa bisa dikategorikan sebagai bentuk kesalahan yang berbentuk kesengajaan atau kealpaan atas sebuah prosedur.

Sementara dari sisi teori sambung Dian, kesengajaan juga terbagi ke dalam tiga bentuk, yaitu sengaja sebagai tujuan, sengaja dengan kesadaran akan kepastian, dan sengaja dengan kesadaran akan kemungkinan.

Dalam kasus ini Dian menilai, perbuatan terdakwa masuk dalam kategori kedua, yakni sengaja dengan kesadaran akan kepastian. Sengaja ujarnya, artinya pelaku sejak awal menghendaki dan mengetahui adanya perbuatan yang bertentangan dengan hukum pidana.

Sedangkan persangkaan Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dalam kasus penembakan empat Laskar FPI di mobil Xenia Silver itu lanjut dia, tidak tepat sebab Ipda Mohammad Yusmin Ohorella yang tengah membawa mobil ketika peristiwa itu terjadi, dianggap tidak terlibat secara langsung. Sehingga menurutnya, hanya bisa dikatakan sebagaimana yang membantu.

Lebih lanjut Dian menjelaskan, jika merujuk pada Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP tentang orang yang turut serta melakukan perbuatan pidana, itu dapat dipidana sebagai pelaku tindak pidana.

Dengan demikian kata Dian, pasal tersebut tidak tepat. Karena menurutnya, pembantuannya bukan dari sisi penyertaannya, karena posisi pembantuan yaitu orang yang melakukan pembantuan di saat kejahatan dilakukan atau sebelum kejahatan dilakukan.

“Jadi itu yang saya lihat karena kalau dari sisi penyertaannya Pasal 55 saya tidak melihat, saya melihat hanya ada pembantuannya. Dan pembantuan itu saya bisa klasifikasi pembantuan pada saat kejahatan dilakukan pada Pasal 56 angka 1,” kata Dian.

Sementara itu saksi ahli pidana lainnya yakni Agus Surono dari Universitas Al Azhar Indonesia menilai sebaliknya. Menurutnya, perbuatan terdakwa yang menghilangkan nyawa orang lain bukanlah tindakan kesengajaan.

Menurut Agusi, perbuatan para terdakwa adalah dalam rangka membela diri. Karena ujar dia, pilihan terdakwa adalah Laskar FPI yang menjadi korban atau mereka jadi korban.

“Saya pastikan bahwa meninggalnya korban ini tidak dikehendaki seperti dimaksud dalam Pasal 338, satu frase yang dipastikan adalah sengaja menghilangkan nyawa orang lain, karena itu saya berpendapat ini masuk ke Pasal 49 ayat 1,” ungkap Agus.

Jaksa lalu mencecar Agus dengan pertanyaan, namun Agus tetap teguh dengan pendapatnya. Agus juga menganggap kehormatan, kesusilaan atau harta benda terdakwa terancam karena serangan dari jarak dekat dari korban, sehingga pembelaan melampaui batas pun terpaksa dilakukan.

“Untuk itu dapat dikualifikasi unsur Pasal 49 Ayat 1, empat unsur itu harus terpenuhi.  Maka saya membuat pendapat ini memenuhi kualifikasi Pasal 49 ayat 1,” jelas Agus.

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) berusaha membuktikan dakwaan atas insiden penembakan empat orang laskar FPI. Penembakan diduga dilakukan saat Ipda Mohammad Yusmlin Ohorella bersama Ipda Elwira Priadi Z (almarhum). Kemudian Briptu Fikri Ramadhan memindahkan keempat anggota Laskar FPI ke mobil Xenia Silver yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Akibat perbuatan unlawfull killing itu, Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda Mohammad Yusmin Ohorella didakwa dengan dakwaan primer Pasal 338 dan dakwaan Subsidair Pasal 351 ayat 3 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan satu saksi pelaku lainnya, yakni Ipda Elwira Priyadi  sebelumnya disebut meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tunggal.