Sekjen GCC Kutuk Serangan “Drone” Terhadap Bandara King Abdullah

ilustrasi-pesawat-nirawak-drone
Ilustrasi pesawat tanpa awak.

maiwanews – Sekjen (Sekretaris Jenderal) Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) untuk Negara-negara Arab Dr Nayef Falah Mubarak Al-Hajraf mengutuk aksi terorisme terhadap bandara (bandar udara) di Arab Saudi. Nayef Sabtu 9 Oktober menekankan bahwa kelanjutan praktik tidak bermoral dengan menargetkan warga sipil dan objek sipil, serta menargetkan bandara sipil, adalah kejahatan perang.

Pernyataan itu menyusul serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) terhadap Bandara King Abdullah di Jazan hari Jumat. Serangan itu mengakibatkan jatuhnya korban, beberapa diantaranya adalah warga sipil baik penumpang maupun staf bandara.

Ia menyerukan dilakukan komunikasi komunitas internasional untuk mengambil tindakan segera dan tegas untuk menghentikan tindakan agresif menargetkan fasilitas vital dan sipil serta keamanan kerajaan.

Pernyataan serupa disampaikan oleh Liga Muslim Dunia (Muslim World League/MWL) dan Ketua Asosiasi Cendekiawan Muslim, Sheikh Dr Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa. Hari Jumat ia mengutuk keras serangan teroris menggunakan dua pesawat tanpa awak bermuatan bom di Bandara King Abdullah di Jazan.

Dia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ancaman berkelanjutan terhadap keselamatan warga sipil, pelancong, dan fasilitas sipil adalah eskalasi berbahaya, mirip dengan kejahatan perang.

Kemenlu (Kementerian Luar Negeri) Republik Arab Mesir menegaskan bahwa penargetan berulang fasilitas sipil dan warga sipil tak berdosa, termasuk bandara di wilayah selatan Kerajaan adalah eskalasi berbahaya dan ancaman terhadap keamanan dan stabilitas. Mesir menyatakan solidaritas penuhnya dengan Kerajaan Arab Saudi dalam langkah-langkah untuk menghadapi serangan teroris keji tersebut.

Kemenlu Qatar Qatar menganggap penargetan fasilitas sipil dan vital sebagai tindakan sabotase, bertentangan dengan semua norma dan hukum internasional. Kemenlu Qatar menegaskan penolakan terhadap tindakan kriminal dan sabotase.

Beberapa pihak menuding serangan itu dilakukan oleh kelompok Houthi di Yaman meski kelompok itu tidak mengeluarkan pernyataan mengklaim serangan terhadap Bandara King Abdullah.

Hubungan kedua pihak berada dalam kondisi buruk sejak koalisi beberapa negara terlibat dalam konflik di Yaman tahun 2015. Koalisi pimpinan Saudi mendukung pemerintahan terguling di bawah kepemimpinan Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi. (z/SPA/VOA)