Serangan Roket Menarget Pangkalan Udara Al Balad Irak

maiwanews – Pangkalan udara Irak, Al Balad, menjadi sasaran serangan roket Minggu 19 April. Dua roket menghantam fasilitas sebuah perusahaan Amerika Serikat di dalam pangkalan udara tersebut. Sedangkan tiga lainnya jatuh di luar pangkalan.

Dalam beberapa bulan terakhir, serangkaian serangan serupa menarget pangkalan militer Al Balad, tempat tentara dan pesawat tempur Amerika Serikat (AS) ditampung.

Al Balad terletak 85 kilometer Utara ibu kota Baghdad dan menampung antara lain jet tempur F-16 serta beberapa perusahaan pemeliharaan. Belum ada kelompok mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru di pangkalan itu.

Serangan hari Minggu itu adalah serangan terbaru dari serangkaian serangan terhadap posisi AS. Rangkaian serangan dilakukan setelah Presiden AS Joe Biden, pada bulan Februari, memerintahkan serangan udara terhadap posisi Unit Mobilisasi Populer (PMU) antiteror di sepanjang perbatasan Irak-Suriah, di mana mereka sedang memerangi sisa-sisa kelompok teroris Takfiri Daesh.

Pasukan anti terorisme Irak berjanji akan membalas, mendorong pasukan militer AS untuk bersiaga tinggi dan mengadopsi langkah-langkah keamanan maksimum untuk mengantisipasi tanggapan.

Salah satu serangan terhadap pangkalan udara Balad terjadi pada 4 April ketika setidaknya dua roket menghantam lokasi tersebut.

Sentimen anti AS telah meningkat di Irak setelah pembunuhan komandan anti teror Iran Jenderal Qassem Soleimani dan komandan senior PMU Abu Mahdi al Muhandis tahun lalu, di samping beberapa rekan lainnya, di luar bandara Baghdad.

Kelompok perlawanan Irak telah berjanji untuk membalas pembunuhan tersebut, tetapi membantah peran apa pun dalam serangan roket tersebut.

Dua hari setelah pembunuhan, parlemen Irak memberikan suara untuk resolusi menyerukan pengusiran semua pasukan asing, termasuk Amerika. Resolusi parlemen Irak tentang penarikan pasukan AS dari seluruh wilayah Irak, termasuk wilayah semi-otonom Kurdistan, tidak ambigu dan tidak dapat diubah.

Upaya pengusiran pasukan Amerika Serikat dari Irak dijawab Washington dengan ancaman menjatuhkan sanksi. (Tasnim)