Serangan Roket Menargetkan Pangkalan Koalisi di Kurdistan Irak

maiwanews – Serangan roket menghantam pangkalan Irak, tempat pasukan Amerika Serikat dan koalisi di dekat bandara di ibu kota Kurdistan, Erbil Rabu 30 September malam. Serangan terjadi beberapa jam setelah Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi mengatakan kepada diplomat asing bahwa negaranya akan mengambil langkah untuk menghentikan rangkaian serangan semacam itu.

Pejabat keamanan Kurdi menuduh milisi Syiah menembakkan roket yang digunakan dalam serangan itu. Tudingan ini dibantah pasukan milisi Syiah Hushd. Namun, media pemerintah Irak melaporkan bahwa para pejabat intelijen telah tiba di Brigade 33 milisi Syiah Hushd di luar Mosul untuk menentukan apakah mereka bertanggung jawab atas serangan roket itu atau tidak.

Serangan itu terjadi setelah Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi mengatakan kepada para diplomat dari 25 negara bahwa pemerintahnya akan melindungi fasilitas mereka dari serangan milisi.

Dia menuding berbagai serangan belakangan ini dimaksudkan untuk mempermalukan pemerintah dan mencegahnya menjaga ketertiban terhadap milisi, serta untuk mengisolasi Irak dari komunitas internasional dengan mendorong kedutaan dan organisasi internasional untuk meninggalkan negara itu. Dengan begitu akan memungkinkan milisi untuk merebut kekuasaan. Tapi dia berjanji untuk melindungi target asing dari serangan milisi.

Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein mengatakan kepada wartawan hari Rabu 30 September bahwa peringatan Amerika Serikat (AS) bahwa Washington mungkin mengevakuasi kedutaan besarnya di Baghdad adalah sebuah kesalahan dan datang pada saat tidak tepat. Media Irak memperingatkan bahwa milisi Syiah mungkin mencoba menyerang Zona Hijau di Baghdad tengah, tempat kompleks Kedutaan Besar AS berada, seperti telah mereka lakukan pada Oktober 2019. (VOA)