Urban Policy: Program Ekonomi Kandidat Pilkada Depok Belum Maksimal

maiwanews – Lembaga riset dan kajian kebijakan publik independen Urban Policy menilai program pemulihan ekonomi kedua pasangan calon (paslon) Wali Kota Depok bidang ekonomi belum maksimal. Hal ini didasarkan pada kajian dan komparasi terhadap janji kampanye dan program unggulan kedua paslon.

Kedua kandidat baik Pradi-Afifah dan Idris-Imam masih belum maksimal dalam menjawab tantangan ekonomi sebagai dampak pandemi COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) di kota Depok. Demikian pernyataan pers Urban Policy di Depok Selasa 6 Oktober.

Data BPS (Badan Pusat Statistik) mencantumkan Kemiskinan di kota Depok saat ini jumlahnya mencapai 49,4 ribu penduduk dengan jumlah pengangguran terbuka sebanyak 72.3 ribu orang. Angka tersebut adalah dalam kondisi normal dan dapat dipastikan meningkat akibat dampak pandemi korona.

Selain itu, hampir 19,6 persen penduduk Depok adalah masyarakat komuter, mereka mayoritas bekerja di ibu kota sehingga dampak PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) harusnya diperhitungkan oleh masing-masing Paslon sebelum menyusun program. PSBB menyebabkan masyarakat Depok tidak bisa bekerja dan harus menghadapi potensi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) pegawai.

Direktur eksekutif Urban Policy Nurfahmi Islami Kaffah menjelaskan kedua kandidat dalam pilkada (pemilihan kepala daerah) Depok perlu menjawab tiga tantangan utama di bidang ekonomi dalam situasi pandemi ini.

Pertama adalah daya beli masyarakat terhadap Bahan Pokok dan kebutuhan sehari-hari. Tantangan kedua adalah isu lapangan pekerjaan, terutama karena mayoritas bekerja disektor perdagangan dan jasa, masifnya PHK dan tidak terserapnya angkatan kerja baru di kota Depok.

Ketiga adalah perlindungan terhadap masyarakat miskin atau rentan miskin perlu segera mendapatkan bantuan dari pemerintah agar dapat bertahan menghadapi pandemi.

Berdasarkan kajian Urban Policy, Nurfahmi menjelaskan bahwa secara umum ada tiga bentuk pendekatan program ekonomi dari masing-masing paslon baik Pradi-Afifah dan Idris-Imam, ketiganya memiliki kemiripan.

Ketiga program tersebut jika dikelompokkan antara lain, pertama, penciptaan wirausaha baru, Pradi-Afifah menggagas penciptaan 10.000 Pengusaha baru, sedangkan Idris-Imam menjanjikan 5000 pengusaha startup baru dan 1000 perempuan pengusaha.

Kedua, perlindungan dan fasilitas bagi UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), dimana Pradi-Afifah menjanjikan program ekonomi kerakyatan dan UMKM dengan membangun pusat logistik dan kerjasama dengan online marketplace sedangkan Idris Imam menjanjikan pembangunan Gedung Pusat UMKM di kota Depok.

Ketiga, pendekatan Insentif, dimana Pradi-Afifah menjanjikan insentif bagi siswa berprestasi dan siswa dari keluarga ekonomi tidak mampu disisi lain Idris-Imam menggagas peningkatan insentif bagi guru honorer dan swasta serta peningkatan insentif bagi pembimbing Rohani. (Urban Policy)