Ustadz Maaher Wafat, Polri Minta Tidak Sebar “Hoax”

maiwanews – Pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) meminta masyarakat tidak menyebarkan “hoax” atau kabar bohong terkait wafatnya Ustadz Maaher At-Thuwailibi. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono Rabu 10 Februari menegaskan bahwa Ustadz Maaher atau Soni Eranata meninggal karena sakit.

Brigjen Rusdi meminta masyarakat tidak mudah percaya kabar bohong dan tidak menyebarkan hoax. Termasuk isu bahwa Ustadz Maaher disiksa sebelum menemui ajalnya. Kabar seperti itu disebarkan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Untuk mengetahui kebenarannya, masyarakat diminta untuk menanyakan langsung ke pihak berkompeten.

Dalam pernyataannya Brigjen Rusdi juga mengingatkan bahwa menyebarkan berita bohong merupakan tindak pidana.

Laman hukumonline.com memaparkan bahwa Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (UU 1/1946) mengatur mengenai berita bohong yakni:

  1. Barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.
  2. Barangsiapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.

Hal tersebut menegaskan bahwa penyebaran berita bohong merupakan tindak pidana. (Polri/Hukumonline)