maiwanews – Presiden Joko Widodo (Jokowi) membatalkan kebijakan kenaikan tunjangan uang muka pembelian mobil pejabat negara sebesar Rp 94,24 juta menjadi Rp 210,89 juta dari sebelumnya hanya Rp 116,65 juta yang sebelumnya ditandatanganinya sendiri.
Mengaku tidak mengetahui persis isi keputusan yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2015 itu, Jokowi mengatakan bahwa hal-hal seperti itu seharusnya disaring terlebih dahulu oleh Kementerian sebelum sampai ke mejanya.
Menurut Jokowi, kenaikkan tunjangan uang muka atau DP pembelian mobil untuk pejabat negara, sangat tidak tepat. Terlebih lagi kata Jokowi, kenaikan tunjangan itu dilakukan ketika sejumlah harga kebutuhan masyarakat mengalami kenaikkan.
Sejumlah kalangan menilai, peristiwa tersebut mencerminkan adanya ketidakcermatan kementerian maupun istana dalam mempersiapkan naskah dan keputusan yang akan ditandatangani presiden.
Mantan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Yusril Ihza Mahendra menceritakan pengalamannya melihat langsung bagaimana tingkat ketelitian mantan presiden Soeharto sebelum menandatangani naskah atau keputusan.
Menurut Yusril, Pak Harto setiap mau tandatangan, terlebih dahulu membaca naskah itu dengan seksama. Tiap naskah yang akan ditandatangani kata Yusril, ada memorandum Mensesneg yang menerangkan secara ringkas latar belakang naskah tersebut.
Yusril menjelaskan, jikalau ada hal yg tidak jelas bagi Pak Harto, maka orang pertama yang ditanya adalah Mensesneg Moerdiono atau Saadillah Mursyid. Kata Yusril, kadang-kadang Soeharto langsung tanya ke dirinya kalau itu menyangkut pidato atau surat yang akan ditandatangani.
Semua naskah yang dikirim ke rumah pak Harto lanjut Yusril, keesokan harinya naskan yang telah ditandatangani sudah dikembalikan ke Sekneg melalui ajudan, sementara belum ditandatangan ada catatan atau disposisi yang perlu segera ditindaklanjuti Mensesneg.
Dari disposisi itu lanjut Yusril, dirinya maupun orang yang ada di sekelilingnya tahu bahwa Soeharto memang membaca semua naskah yang disampaikan kepadanya sebelum ditandatangani termasuk laporan intelejen yang tiap hari masuk dimana ada coretan-coretan pada laporan itu dan ada pertanyaan serta komentar dari presiden.
Pada pidato terakhir pada tanggal 21 Mei 1998 pun kata Yusril, Soeharto memanggil dirinya ke kamar dan bertanya tentang sesuatu sebelum pidato tersebut dibacakan.
“Pak Harto sangat teliti, hati2 & tidak segan bertanya. Saya waktu itu disebut pak moerdiono ‘anak kecil’. Tapi pak Harto tak segan nanya,” tulis Yusril dalam akun Twitternya @Yusrilihza_Mhd, Senin (6/4/2015).
Porsche Asia Pacific Luncurkan ‘Porsche at Jewel’ di Bandara Changi Singapura
Pjs Wali Kota Makassar Dukung Penelitian Unhan Mengenai MNP Hub Pembangunan Nasional KTI
Wali Kota Makassar Danny Pomanto Silaturahmi dengan Rektor ITB
Tirta Tani Farm Menandatangani MOU dengan UPT SMK Negeri 2 Soppeng
Wali Kota Eri Siapkan Kolam Renang Khusus Pelajar Dengan Harga Terjangkau









