maiwanews – Sejauh ini berdasarkan teori, dugaan paling kuat yang jadi penyebab pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 jatuh ke laut Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Minggu (28/12/2014) lalu adalah awan tebal bernama culumonimbus.
Dari berbagai referensi disebutkan, awan ini sangat berbahaya bagi penerbangan antara lain karena proses vertical draft atau gerakan vertikal udara yang terjadi dalam awan baik naik (updraft) ataupun turun (downdraft), partikel es yang dapat membekukan bagian-bagian pesawat termasuk mesin. Dan oleh partikel-partikel es ini juga yang paling sering menghasilkan petir yang dapat mengacaukan sistem kelistrikan, komunikasi dan navigasi pesawat.
Berdasarkan nama, cumulonimbus berasal dua suku kata dari bahasa Latin yakni cumulus berarti terakumulasi dan nimbus yang berarti hujan. Awan-awan yang dapat terbentuk sendiri maupun secara berkelompok ini, menciptakan es, badai dan petir.
Wikipedia menyebutkan, cumulonimbus atau kumulonimbus adalah sebuah awan vertikal menjulang yang sangat tinggi hingga 60 ribu kaki atau 18 kilometer lebih, padat, dan di dalamnya terdapat badai petir. Petir yang berada di jantung awan bisa menimbulkan curah hujan tinggi dan angin kencang.
Sementara Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Satya membenarkan bahwa bentuk awan cumulonimbus memang berupa gumpalan awal tebal yang di dalamnya terdapat petir dan angin.
Awan tebal yang memunculkan berbagai fenomena cuaca esktrem seperti badai tropis (typhoon/topan), badai petir (thunderstorm), hujan es (hail storm), tornado hingga angin puting beliung ini, diakui memang ada di lintasan terbang AirAsia QZ8501.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut, jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 diduga didahului dengan sambaran petir yang mematikan litrik, perangkat komunikasi dan sistem navigasi pesawat sebelum akhirnya dihempaskan oleh angin updraft/downdraft atau bahkan mesin dibekukan oleh es.
Teori tersebut diperkuat oleh keterangan Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmodjo, yang mengatakan bahwa Pilot Kapten Irianto sempat meminta izin Air Traffic Controller (ATC) agar pesawat melewati rute yang tidak normal untuk menghindari awan yang berada di ketinggian 35 ribu kaki.
Terlepas benar tidaknya AirAsia QZ8501 jatuh karena culumonimbus, tapi tahukah ada bahwa culumonimbus yang beberapa hari terakhir menjadi nama yang sontak sangat populer dikaitkan jatuhnya AirAsia, dengan sangat terang disebutkan dalam kitab suci ummat Islam, Al Quran?
Dalam Surah An Nur ayat 43 disebutkan dengan tegas bahwa ada sebuah awan tebal berlapis yang terbentuk dari hasil proses penggabungan awan-awan aktif yang lebih kecil. Di ayat tersebut disebutkan, awan tebal itu menurunkan hujan, mengandung butiran es, hingga menimbulkan petir.
Di akhir ayat itu disebutkan bahwa petir atau kilat itu bisa “menghilangkan penglihatan.” Mungkinkah tafsirannya berarti dapat mematikan “penglihatan pesawat” dalam hal ini berupa listrik, jaringan komunikasi dan sistem navigasi pesawat?
Berikut Surah An Nur ayat 43 yang artinya :
“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”
Subhaanallah, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
.









