maiwanews – Rencana TNI AU membangun skadron Pesawat Tanpa Awak (UAV) di Landasan Udara (Lanud) Supadio, Provinsi Kalimantan Barat, didukung oleh DPR RI yang membidangi masalah pertahanan.
Pesawat Tanpa Awak dianggap anggota Dewan sebagai salah satu solusi menjaga perbatasan, mengingat adanya tantangan topografi wilayah perbatasan Kalimantan Barat.
“Kami mendukung adanya skadron udara pesawat tanpa awak untuk lebih efisien menjaga wilayah perbatasan, khususnya di provinsi Kalimantan Barat,” tegas Ketua Komisi I DPR RI Kemal Azis Stamboel saat melakukan kunjungan kerja ke Landasan Udara Supadio, Kalbar, baru-baru ini.
Menurut Kemal, Pesawat Tanpa Awak sangat memudahkan TNI untuk melakukan pengamatan dan pengawasan di tengah keterbatasan sarana prasarana dan topografi wilayah perbatasan.
Kemampuan Pesawat Tanpa Awak adalah dapat terbang dengan daya jelajah hingga 300 km serta memiliki kemampuan terbang selama 24 jam penuh. Karena itu menurut Kemal, dalam kondisi lapangan yang dimiliki Republik Indonesia itu adalah solusi terbaik untuk mengatasi keberadaan infrastruktur.
Guna mengimbangi pengawasan perbatasan, TNI berencana membeli Pesawat Tanpa Awak dalam waktu dekat. Menurut Letkol (Pnb) Edi Panggabean, direncanakan tahun 2011 akan datang pesawat 4 unit, dan pada tahun 2012 datang lagi 8 unit.
Saat ini, pihak TNI AU tengah mempersiapkan infrastruktur pendukung mulai dari hanggar, skadron, runway, dsb.
Namun tidak dijelaskan apakah TNI AU akan menggunakan Pesawat Tanpa Awak buatan bangsa sendiri seperti ‘Puna’ yang sebelumnya dikembangkan oleh BPPT.
Seperti diberitakan beberapa bulan lalu, Direktur Pusat Teknologi Industri Pertahanan Keamanan BPPT, Joko Purwono menyatakan, Puna dapat mencapai ketinggian di udara hingga 120 kilometer (km).
Puna merupakan pesawat otonomos dilengkapi kamera pengintai dan tidak dikontrol melalui remote, namun mengikuti logika terbang mandiri berdasarkan titik koordinat yang sudah ditentukan sebelumnya.
Pesawat jenis ini rencananya akan diproduksi secara komersil tahun depan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Bandung.
Prestasi anak bangsa soal UAV sebenarnya sudah dimulai 2004 lalu. Pesawat UAV milik Malaysia, ternyata dibuat di Arcamanik pada tahun 2004. Saat dibuat, nama adalah Kujang yang lalu dirubah jadi Tamingsari oleh sebuah lembaga riset Malaysia sekaligus diklaim sebagai buatannya.
Pesawat tersebut dikembangkan oleh mantan karyawan IPTN (sekarang PTDI) Endri Rachman dan kawan-kawan sejak tahun 2000 di sebuah pabrik yang dijalankan oleh empat teknisi jebolan Jerman, ITB, dan IPTN serta 12 karyawan lulusan STM.









