Buntut kasus laser yang diikuti dengan bobolnya gawang Timnas Indonesia sebanyak tiga kali dalam kurun waktu 13 menit, semua orang, terutama publik Indonesia mengecam keras aksi tak bertanggung jawab itu yang dilakukan pada laga final leg pertama AFF Cup 2010, di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu, 26 Desember 2010.
Terlepas bahwa aksi tersebut dikecam karena merupakan pelanggaran dan juga dapat berpengaruh besar terhadap hasil akhir dari sebuah pertandingan sepakbola, banyak kalangan yang melakukan analisa ilmiah terhadap laser itu dari sisi teknis maupun medis. Itu karena sebagian mereka berpendapat, aksi menembakkan sinar laser ke mata pemain semata-mata bertujuan merusak secara fisik.
Namun benarkah aksi menembakkan sinar laser ke mata pemain Timnas Indonesia di Bukit Jalil itu bertujuan mencelakai secara fisik?
Dalam teori memenangkan pertandingan sepakbola, selain faktor kemampuan teknis bermain, ada faktor non teknis yang tak kalah pentingnya dalam menentukan apakah sebuah kesebelasan pada akhir pertandingan akan keluar jadi pemenang atau tidak. Faktor non teknis itu adalah ketahanan mental atau kestabilan emosi pemain, baik secara individual maupun kelompok saat permainan sedang berlangsung.
Kemampuan teknis dan ketahanan mental tersebut merupakan dua faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Umumnya, pemain yang memiliki ketahanan mental atau kestabilan emosi yang baik, akan mampu memaksimalkan kemampuan teknis dan potensi diri maupun kelompoknya dalam bermain. Sebaliknya, jika ketahanan mental dan emosi terganggu apalagi hingga tidak stabil, hampir pasti, sebagian kemampuan bermain akan sirna di lapangan.
Karenanya, dalam bermain sepakbola, dua hal yang pasti selalu dilakukan sebuah tim sepakbola untuk menang dalam sebuah pertandingan. Pertama, bertanding dengan menyerang serta bertahan secara teknis, dan kedua, bertanding dengan menyerang serta bertahan secara mental.
Untuk yang pertama, secara umum lebih mudah ukurannya, karena teorinya nyata bahkan tertulis, dan tertuang dalam teori permainan dan peraturan pertandingan. Sementara untuk yang kedua, sulit mengukurnya. Karenanya, sebagian besar tidak tersentuh dengan aturan. Dalam prakteknya, bertanding secara mental umumnya dilakukan dengan kreatifitas masing-masing, terkadang dilakukan dengan trik yang licik serta penuh dengan tipu daya.
Apalagi, bertanding secara mental umumnya tidak hanya melibatkan antara dua kesebelasan sebagaimana bertanding secara teknis. Bertanding secara mental melibatkan semua unsur yang berkepentingan seperti supporter, publik, organisasi sepakbola itu sendiri, bisnis, media, politik bahkan para penjudi.
Cara terbaik menyerang secara mental adalah dengan provokasi. Memprovokasi lawan main baik yang behasil maupun yang gagal, sangat sering dilakukan dalam event-event resmi sepakbola dalam semua tingkatan. Di Piala Dunia 2006 contohnya, provoaksi verbal Marco Materazzi, sukses membuat Zinedine Zidane emosional lalu melakukan kesalaha fatal dengan menanduk dada Materazzi.
Pada laga semifnal AFF Cup melawan Filipina, meski gagal, Cristian Gonzales juga sebenarnya diprovokasi. Penyebab gagalnya, di samping striker Timnas Indonesia itu lebih mampu mengendalikan emosi, juga karena kalimat provokasi itu diucapkan dalam bahasa yang tidak dimengerti Gonzales. Bagaimana jadinya jika Gonzales terprovokasi ketika itu, bisa jadi lawan Malayisa di final AFF Cup kali ini bukan Indonesia.
Bentuk provokasi lain juga sangat sering datang dari penonton kepada pemain. Nah, terkait dengan itu, kasus laser di Bukit Jalil bisa dipastikan bertujuan untuk memprovokasi mental pemain Timas Indonesia, bukan untuk merusak. Efek yang diharapkan pelaku bukan pada dampak fisik sinar berwarna hijau itu. Ketika Markus melakukan protes keras dan meminta pertandingan dihentikan sementara, saat itu tujuan pelaku sudah hampir tercapai.
Faktanya, hanya empat menit setelah pertandingan kembali dilanjutkan, Indonesia kemasukan bola sebanyak tiga buah hanya dalam waktu 13 menit. Kalau begitu, apakah kekalahan Indonesia 3-0 oleh Malaysia itu akibat sepenuhnya karena sinar laser yang ditembakkan kepada Markus yang kebetulan memiliki tingkat emosional tinggi? Bisa jadi ya, tapi hampir mustahil bisa dibuktikan.
Itu sebabnya, provokasi adalah cara ‘curang’ paling manjur sekaligus paling aman dalam mengganggu mental pemain lawan yang paling sering dilakukan. Karena daripada membalas dengan melakukan tindakan kasar kepada Timnas Malaysia apalagi rusuh, lebih baik lakukan provokasi, tapi sebaiknya pakai cara lain. Karena jika pakai laser juga, disamping terkesan kurang kreatif, bisa jadi tidak manjur untuk Timnas Malysia.
Terlepas dari itu, bentuk provokasi paling aman serta dijamin ampuh adalah, bermain lebih baik tanpa beban, masukkan bola ke gawang lawan sebanyak-banyaknya, sambil menahan kemasukan bola di gawang sendiri sekuat-kuatnya. Jika itu dilakukan, dijamin mental pemain Malaysia akan jatuh, bahkan lumpuh. Tidak perlu laser. (Yulham Malebbireng)
Arus Lalu Lintas Tol Jelang Puncak Mudik, Lancar
Prabowo Percaya Investigasi Penembakan WNI di Malaysia akan Transparan
Prabowo Subianto Tiba di Malaysia untuk Kunjungan Kenegaraan
Wali Kota Danny Beri Selamat Tim Drumband Corps Makassar yang Sabet Juara Umum di Bandung
Retreat Kabinet Merah Putih di Akmil Magelang Berakhir









