maiwanews – Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak efisien dalam melaksanakan kinerjanya selama ini, akibatnya negara semakin terbebani. Demikian disampaikan pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya, Malang, Ahmad Eryani Yustika, pada sebuah diskusi di Jakarta, Kamis, 6 September 2012.
Menurut Yustika, tidak adil jika pola kerja PLN tersebut menjadi tanggung jawab masyarakat dengan cara harus membayar tarif dasar lisrik yang tinggi. Dikatakan Yustika bahwa bahan produksi PLN selama ini lebih banyak dari solar.
Ia juga mempertanyakan janji pemerintah agar PLN mengkonversi bahan produksi dari solar ke gas, batu bara atau lainnya untuk mendapat biaya produksi lebih murah. Jadi jangan sampai inefisiensi PLN itu dibebankan kepada masyarakat, kata Yustika.
Senada dengan Yustika, Arief Budimanta, anggota Komisi XI DPR menegaskan komisinya akan menolak jika pemerintah mengajukan permohonan ke DPR untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL). Komisi XI DPR membidangi masalah-masalah ekonomi.
Budimanta juga menekankan pada bagaimana agar PLN itu efisien, penerimaan negara meningkat tanpa menaikkan TDL. Kenaikan tarif listrik akan berdampak pada kenaikan biaya produksi, dan pada akhirnya harga barang pada tingkat konsumen juga akan naik.
Bulan lalu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik, menegaskan dengan terus meningkatnya subsidi energi maka kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM dan tarif dasar listrik atau TDL seharusnya diberlakukan dan dapat diterima masyarakat. (aso/VoA)
Satgas Ops Damai Cartenz Dialog dengan Masyarakat
Munafri-Aliyah Hadiri Peringatan Hari Buruh di Makassar
Munafri Apresiasi Antusiasme Warga Sukseskan 'Makassar Half Marathon 2025'
Patroli Perintis Presisi Polda Metro Jaya Gagalkan Dua Aksi Tawuran di Jakarta Timur
Munafri Lakukan Sidak ke Mess Pemkot Makassar di Jakarta









