DPP KNPI: Salah Urus Pengungsi Rohingya, Timbul Teroris Baru

logo knpi sedangmaiwanews – Organisasi ASEAN diimbau serta didorong kepedulian (solidaritas) terhadap penanganan dan penyelesaian ribuan pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang ditampung di Aceh dan Sumatera Utara. Demikian juga rezim junta Myanmar diminta membuka diri guna menyelesaikan masalah kemanusiaan ini secara khusus.

“Kita meminta ASEAN dapat menyelesaikan pengungsi Rohingya secara berkelanjutan,” pinta Ketum DPP KNPI Muhammad Rifai Darus di Jakarta, Kamis 28 Mei.

Rifai menuturkan dalam menangani sekitar 1.800 pengungsi terutama bayi, anak-anak, perempuan dan sebagainya, RI harus memberikan perhatikan secara lebih serius dalam konteks kemanusiaan kepada manusia perahu. Di sisi lain, RI harus mewaspadai dampak kehadiran mereka secara bergelombang sejak awal bulan ini.

“Kita harus lebih hati-hati dalam era globalisasi (tanpa batas), waspada terhadap pertahanan dan ketahanan bangsa (food security) hubungannya dengan kemampuan bangsa terhadap penanganan,” ingat Rifai panjang lebar.

Hal senada juga ditambahkan oleh Ketua Bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana DPP KNPI Nevi Ervina Rachmawati bahwa eksodus penduduk secara besar-besaran dari satu negara ke negara lain dalam konteks MDGs memperlihatkan kegagalan pelaksanaan MDGs karena masih ada negara yang tidak mampu melindungi warganya.

“Secara kemanusiaan, sudah tepat langkah RI menampung pengungsi Rohingnya di Indonesia dan mengembalikan pengungsi Bangladesh,” tukasnya.

Nevi menyebutkan pihak mana pun lebih memperhatikan serius kebutuhan anak-anak dan perempuan. Menurutnya, kelompok ini rentan timbulnya berbagai persoalan.

“Terima kasih kepada warga Aceh secara khusus dan masyarakat Indonesia yang telah lebih awal peduli dan ikut ambil bagian dalam menampung pengungsi dan mengajak semua komponen untuk ikut membantu dan peduli,” puji Ketua Bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana DPP KNPI.

Nada lebih tegas disampaikan oleh Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri (HUBLU) DPP KNPI Doni Harsiva Yandra yang mengutip pernyataan PBB bahwa Rohingya adalah kaum/etnis minoritas yg paling menderita di dunia. Disebutkan, permasalahan Rohingya bukan saja menjadi masalah RI tetapi juga negara lain. ASEAN harus konsen menangani manusia perahu ini untuk menjaga stabilitas kawasan.

“Jika pengungsi tidak tertangani dengan baik akan melahirkan terorisme gaya baru,” tukas Doni.
Info terbaru dari lapangan dalam pekan ini, jumlah pengungsi Rohingya dan Bangladesh tercatat 1.810 jiwa yang tersebar di Langsa 682 jiwa, Aceh Utara 328 jiwa, Aceh Timur 409 jiwa, Aceh Tamiang 48 jiwa, Lhokseumawe 247 jiwa, dan Medan 96. Dari 1.810 jiwa tersebut terdiri dari laki-laki dewasa 1.328 jiwa, perempuan 244 jiwa dan anak-anak 238 jiwa. (m012)

BERITA LAINNYA

.