Tri Sutrisno: Jika TAP MPRS XXV/1966 Dicabut, Komunis Bangkit Lagi

maiwanews – Mantan Wakil Presiden Tri Sutrisno mengingatkan ancaman bangkitnya kembali komunis di Indonesia. Tanpa disadari, saat ini Komunis gaya baru (KGB) sudah mulai memasuki kehidupan generasi muda Indonesia.

Komunis gaya baru terang Tri Sutrisno, mulai menguasai Indonesia melalui seluruh sendi-sendi kehidupan, baik melalui budaya, informasi, dan ekonomi dengan sasaran utama kalangan anak.

Hal itu terjadi ungkap Tri Sutrisno, tidak terlepas dari buah reformasi yang kebablasan dimana semua orang bisa berpendapat bebas. Padahal reformasi butuh berpancasila dan pancasila harus ditanamkan kepada generasi muda agar memiliki ketahanan pribadi.

Tri Sutrisno mengatakan, komunis atau gerakan PKI gaya baru ini mencoba merusak pikiran anak-anak muda yang tak paham sejarah, misalnya dengan berupaya memutarbalikkan fakta seolah-olah PKI adalah korban kekejaman Pemerintah Orde Baru.

Lebih jauh kata Sutrisno, perekonomian di tanah air yang sudah terjual kepada pihak asing melalui KGB. Dijelaskan Tri Sutrisno, tak sedikit perusahan yang ada di Indonesia termasuk BUMN yang dikuasai asing khususnya Cina.

Karena itu Tri Sutrisno berpesan kepada generasi muda agar benar-benar mewaspadai bangkitnya kembali PKI di Indonesia. Upaya ke arah itu terlihat jelas seperti isu permintaan maaf kepada PKI hingga wacana pencabutan TAP MPRS yang menyebut PKI sebagai organisasi terlarang.

“Jangan sampai mencabut TAP MPRS XXV/1966. Kalau sampai ini dicabut, Komunis akan bangkit kembali dengan gaya barunya,” kata Tris Sutrisno dalam keterangannya kepada wartawan, Jakarta, Jumat (2/10/2015).

Tri Sutrisno mengingatkan, aksi pemberontakan pertama PKI terjadi di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1948 dimana banyak tokoh agama, pejabat dan rakyat yang menjadi korban. Kemunculan kembali PKI diawali setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) dan mengikuti Pemilu 1955.

PKI hidup lagi bahkan berkembang cukup pesat setelah pemberontakan pertama 1948 di Madiun yang gagal lanjut Tri Sutrisno, disebabkan karena saat itu pemberantasannya tidak dilakukan dengan tuntas.

Akibatnya, PKI kembali bisa mengkosolidasikan diri dan melakukan upaya kudeta kedua dengan membunuh jenderal pada tanggal 30 September 1965 yang dikenal dengan G30S PKI, namun lagi-lagi gagal.

BERITA LAINNYA

.