
Bojonegoro, maiwanews – DPD KNPI Bojonegoro dalam upaya mempertahankan lumbung pangan dan energi nasional melakukan dialog lingkungan hidup bertemakan Menjaga Proses dan Pelestarian Bengawan Solo Sebagai Upaya Menjaga Obyek Vital Kehidupan Rakyat Minggu (31/1) kemarin.
Sebagai nara sumber, selain Bupati Bojonegoro Suyoto, Ketua DPD KNPI Anam Warsito juga dihadirkan pakar lingkungan hidup dan Bengawan Solo diantaranya Masitoh dari Kemen LH dan Kehutanan RI, Budi Sutjipto dari Balai Besar Bengawan Solo di Solo, serta Aktifis Walhi Pusat Ilhas Ahmadi.
Bupati Bojonegoro, Suyoto, mengapresiasi apa yang telah dilakukan KNPI akan kepedulian atas persoalan seputaran Bengawan Solo.Sungai menurut Suyoto adalah kunci vital dalam tiap peradaban berbangsa dan bernegara. Bengawan Solo sendiri diketahui sebagai satu-satunya sumber pemasok air untuk pertanian di 23 desa sepanjang bantaran daerah aliran sungai (DAS) ini.
Menyitir kisah-kisah dalam tarikh Islam, bupati mengatakan bila ingin mengetahui karakter masyarakat satu daerah tanyalah sungainya. Dan Bengawan Solo, menurut Kang Yoto demikian bupati satu ini diakrabi, Bengawan Solo adalah cermin masyarakat Bojonegoro sesungguhnya.
Di banyak negara maju, sebut Kang Yoto, sungai menjadi halaman muka. Sebaliknya, di daerah yang dipimpinnya, Kang Yoto mengakui, sungai masih jadi halaman belakang. Artinya tempat pembuangan kotoran dan sampah.
Oleh karenanya Kang Yoto meminta Bengawan Solo terus dijaga kelangsungannya demi kepentingan banyak orang bukan semata petani belaka. Dia juga mengungkapkan keprihatinannya atas potret ironi sungai yang luberannya ketika banjir datang menyerang Bojonegoro pertama kalinya dibanding 16 kabupaten/kota di Jawa Timur lainnya.
Sementara Ketua DPD KNPI Bojonegoro, Anam Warsito, menyatakan kestabilan pangan di daerahnya ditopang oleh 23 desa di area bantaran daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo penghasil padi selama tiga kali musim dalam setahunnya.
Menurut Anam, yang juga anggota Komisi A DPRD Bojonegoro, tersebut untuk menjaga kestabilan proses produksi tersebut pasokan air yang banyak mengandalkan dari Sungai Bengawan Solo perlu dijaga kestabilan dan konsistensinya.
Disebutkan Anam, peran pemerintah daerah setempat sangat vital dalam persoalan proses produksi pertanian di Bojonegoro. Ada kesan selama ini petani sangat bergantung pada sektor swasta terkait kelangsunganb proses proes produksi pertanian mereka.
“Kesan yang muncul di kalangan petani, peran sektor swasta sangat dominan. Karenanya, begitu mereka kesulitan memenuhi stok bahan bakar minyak (BBM), misalnya, dipastikan proses aktifitas petani terhenti. Nah, disinilah perlunya peran pemerintah secara maksimal dalam upaya mempertahankan Bojonegoro sebagai lumbung pangan nasional,” tegas Anam.
Anam mengaku kerap risau atas kondisi Bengawan Solo yang kian hari makin mengkhawatirkan keberadaannya. Artinya, sebut Anam, disamping persoalan banjir hal prinsip lainnya adalah terkait bagaimana upaya untuk mempertahankan pasokan air sungai terpanjang di Pulau Jawa ini terjaga stabilitasnya. (LEA)









