maiwanews – Dalam operasi SAR pesawat Airsia QZ851 yang jatuh di perairan Selat Karimata pada Minggu (28/12/2014) lalu, TNI menerjunkan sejumlah pesawat, helikopter dan kapal perang (KRI) buatan Indonesia.
KRI Banda Aceh adalah satu kapal perang milik TNI AL yang cukup aktif berperan dalam melakukan evakuasi korban AirAsia sejak hari pertama hingga hari ini.
Panglima TNI jenderal Moeldoko bahkan menjadikan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) atau kapal Bantu Angkut Personel (BAP) itu sebagai ‘kapal komando’ dalam upaya evakuasi korban maupun reruntuhan pesawat AirAsia.
Saat dilakukan upaya pengangkatan ekor pesawat, Moeldoko bahkan berada di KRI Banda Aceh selama tiga hari untuk memantau langsung sekaligus menyemangati para prajurit TNI AL dalam melakukan penyelaman di dasar laut dan mengangkat ekor pesawat ke permukaan.
Peran sebagai “kapal komando” memungkinkan bagi KRI Banda Aceh, karena selain fungsi utamanya untuk operasi militer selain perang, kapal perang buatan Indonesia itu juga berfungsi untuk memobilisasi peralatan perang maupun pasukan.
Sebagai LPD, KRI banda Aceh mampu menampung lima helikopter yang terdiri dari tiga helikopter di dek dan dua helikopter di dalam hanggar, mampu mengangkut 22 tank atau dapat mengangkut kombinasi 20 truk dan 13 tank, serta mampu mengangkut 560 pasukan dan 126 awak.
Itulah sebabnya, KRI Banda Aceh menjadi terminal lalu lalang jenazah AirAsia yang berhasil dievakuasi dari permukaan dan dasar laut sekaligus menjadi landasan terbang terapung bagi helikopter milik TNI, Basarnas maupun Polri.
KRI Banda Aceh-593 merupakan salah satu dari empat kapal LPD modern yang saat ini dimiliki TNI Angkatan Laut.Tiga kapal LPD lainnya adalah KRI Makasar-590, KRI Surabaya-591, dan KRI Banjarmasin-592.
Dua unit kapal dikerjakan di Korea Selatan yaitu KRI Makasar-590 dan KRI Surabaya, dan dua lainnya yaitu KRI Banjarmasin dan KRI Banda Aceh dikerjakan di galangan kapal PT PAL Surabaya dengan menerapkan prinsip transfer of technology (TOT).
Sebagai kapal perang TNI Angkatan Laut, KRI Banda Aceh dipersenjatai dengan satu unit meriam kaliber 57 mm, dan dua unit meriam kaliber 40 mm.
Hardiknas 2026, Kapolri Gaungkan Pendidikan Bermutu Wujudkan Indonesia Emas 2045
Prabowo Terima Albanese, Sepakati Penguatan Kemitraan Indonesia-Australia
Dunia Akui Ketahanan Pangan Indonesia, Kata Prabowo
Prabowo Sambut Hun Sen, Pererat Hubungan Diplomatik Indonesia-Kamboja
Prabowo Luncurkan Gerakan Indonesia Menanam di Banyuasin









