Moedoko: Eksekusi Mati tak Pengaruhi Kerjasama Alutsista RI-Brasil

maiwanews – RSalah satu terpidana mati kasus narkoba, Rodrigo Gularte dieksekusi mati pada Rabu, 29 April 2015. Gularte ditangkap pada tahun 2004 lalu setelah kedapatan membawa 6 kilogram kokain di dalam peralatan selancarnya.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko memastikan kerjasama pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) antara Indonesia dengan Btazil tidak terpengaruh dengan adanya eksekusi terpidana mati narkoba asal Brasil, Rodrigo Gularte (43).

Dalam konteks hubungan politik kata Moedoko, hubungan dua negara memang kadang-kadang naik-turun. Karenanya kata Moeldoko, TNI tidak boleh juga langsung reaktif pada setiap kejadian.

Bahkan lanjut Moeldoko, posisi TNI justru sangat menentukan dalam menjaga keseimbangan antar kedua negara. “TNI itu sebagai buffer-nya, menjaga keseimbangan,” kata Moeldoko usai upacara gelar pasukan POM TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (4/5/2015).

Saat ini lanjut Moeldoko, Indonesia dan Brasil terlibat kerjasama pembelian alutsista berupa peluncur roket dari produsen senjata Avibras yang bertempat di Sao Paulo, Brasil.

Moeldoko menyatakan bahwa kerjasama bisnis alutsista dengan Brazil tersebut tetap berjalan termasuk kerjasama dengan Australia. Bahkan ke depan sambung Panglima, masih ada kerjasama alutsista dengan Brazil yang perlu dilanjutkan.

Moeldoko menjelaskan, nilai kontrak kerjasama jual beli alutsista dengan Brazil yang ditandatangani sejak 3 tahun lalu, diperkirakan lebih dari Rp 3 triliun.

Selain itu, TNI-AU saat ini diperkuat satu skuadron pesawat tempur baru jenis Super Tucano buatan Brazil.