30 WNI di Perth Australia Demo UU Pilkada

30-WNI-di-Perth-Demo-UU-Pilkada

maiwanews – Sekitar 30 orang Warga Negara Indonesia (WNI) Rabu 1 Oktober 2014 siang waktu setempat di Perth Australia Barat melakukan aksi demo di Konsulat Jenderal RI di kota tersebut. Dengan kostum mayoritas berwarna hitam, para pendemo menggelar “Layatan Matinya Partisipasi Rakyat”. 30-an demonstran berasal dari elemen mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Perth. Selain mahasiswa, beberapa diantaranya adalah masyarakat diaspora Indonesia.

Para demostran mengaku berduka cita atas disahkannya RUU Pilkada menjadi Undang-Undang. Mekanisme pemilihan kepala daerah dianggap melemahkan akuntabilitas demokrasi.

“Kami berduka cita atas pengesahan RUU Pilkada. Dengan diubahnya mekanisme pemilihan menjadi via DPRD, akuntabilitas demokrasi menjadi lemah, serta fungsi kontrol eksekutif hanya berada di tangan politisi DPRD, bukan pada rakyat. Dampaknya para kepala daerah hanya akan melayani kehendak elit-elit partai politik, bukan melayani rakyat”, demikian disampaikan Tio Novita Efriani, koordinator aksi. Mahasiswa Murdoch University ini melanjutkan, persoalan mendasar demokrasi Indonesia adalah rendahnya tingkat kepercayaan rakyat kepada elit partai politik dan politisi di Parlemen. Maka di titik inilah pemilihan langsung menjadi penting. Ia jadi tumpuan rakyat untuk menjaga agar kepercayaan publik tetap hadir.

Irwansyah Jemi, salah seorang peserta aksi, menambahkan bahwa hubungan antara skala korupsi dengan pemilihan langsung tidak berdasar. Sebab, porsi korupsi terbesar ada di level elit politik, bukan di akar rumput. Dengan pemilihan langsung, perilaku elit dapat lebih dikontrol, dan rakyat pun dapat secara langsung menagih janji kepada pemimpin.

Menurut Jemi, argumen bahwa biaya pemilihan langsung terlalu besar tidaklah relevan untuk dijadikan alasan menghapus hak rakyat memilih pemimpinnya di daerah secara langsung. Jemi menilai seharusnya pemilihan langsung tidak dihilangkan, hanya perlu memperbaiki aturan main. “Ini sama saja dengan mengatakan bahwa yang salah dengan demokrasi Indonesia itu rakyat, bukan elit-elit politik yang korup itu”, ujar Jemi.

Aksi demo pelajar dan masyarakat Indonesia di Perth berlangsung singkat, sekitar 10 menit. Dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, usai menyanyikan lagu Indonesia Raya pendemo mengheningkan cipta diiringi lagu Gugur Bunga. Aksi ditutup dengan meletakkan karangan bunga di halaman dalam KJRI, sebagai simbol matinya demokrasi langsung di daerah. (m010/PR)

BERITA LAINNYA

.