maiwanews – Ketua Umum PP MUhamadiyah Din Syamsudin mengatakan, perbedaan pelaksanaan shalat Idul Adha 2010 atau penentuan tanggal 10 Dzulhijah diharapkan tidak dibesar-besarkan.
Menurutnya, perbedaan dalam menyambut hari Raya Idul Adha dikalangan ummat muslim
perlu disikapi dengan toleransi. “Kita jaga toleransi, tidak perlu dibesarkan. Ini atas dasar keyakinan agama. 10 Dzulhijah hari Selasa, silahkan. Rabu silahkan,” kata Din Syamsudin.
Hal tersebut disampaikan Din Syamsudin saat menerima Presiden Muhamadiyah Mauritus, Farad Abdul Muthallib di Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Minggu, 14 November 2010.
Namun Din memberi alasan, karena umat Islam dianjurkan puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah, dan kebetulan menurut perhitungan, tanggal 9 Dzulhijah jatuh Senin bertepatan dengan jamaah haji besok wukuf. Maka Muhammadiyah memutuskan, kata Din, sholat Idul Adha tanggal 16 November.
Padahal sebelumnya, pemerintah yang didukung beberapa organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam telah menetapkan pelaksanaan Idul Adha jatuh pada hari Rabu, 17 November 2010.
Belakangan, ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) juga telah menetapkan 10 Dzulhijah jatuh pada pada hari Rabu seperti yang telah ditetapkan pemerintah.
Karena berbeda dengan ketentuan pemerintah itu, maka Din meminta agar pejabat ataupun pemimpin perusahaan tidak melarang pegawainya yang ingin melakukan salat Idul Adha pada Selasa (16/11).









