Rencana Jamsostek membeli 20% saham Bank Bukopin senilai sekitar Rp500 miliar mendapat tanggapan positif dari Forum Serikat Pekerja BUMN Bersatu. Ketua umum FSP BUMN Bersatu, Arief Poyuono,SE, menyatakan “Keinginan Jamsostek membeli bank BUKOPIN adalah suatu langkah yang perlu didukung oleh para stake hoder dalam hal ini peserta Jamsostek.”
Menurut Poyuono, diharapkan jika Jamsostek mempunyai Bank sendiri akan banyak membantu kaum pekerja dalam mendapatkan kredit perumahan dengan bunga yang rendah dan terjangkau untuk buruh yang menjadi peserta Jamsostek dengan gaji yang kecil.
“Karena dari data yang kami dapatkan untuk pekerja di lingkungan BUMN dengan gaji yang terendah saja banyak yang belum mendapatkan tempat tinggal yang layak serta banyak yang mengontrak rumah, ini disebabkan karena nominal gaji mereka tidak memenuhi syarat untuk bisa mengambil kredit pemilikan rumah.”
Melihat keadaan seperti ini FSP BUMN Bersatu mendukung Jamsostek untuk mengambil alih bank Bukopin atau mempunyai Bank sendiri dan mungkin Bank itu nanti bisa disebut Bank Pekerja /Buruh, tentu ini akan lebih banyak meningkatkan kesejahteraan buruh dalam memenuhi hunian tempat tinggal yang layak. Karena jika Jamsostek punya Bank, tentu bank itu sendiri tidak akan kesulitan likuiditas karena setoran dari peserta Jamsostek bisa menjadi dana yang likuid di Bank yang akan dimiliki Jamsostek, dan Jamsostek bisa menarik semua dananya dari Bank Bank dimana Jamsostek menyimpan uangnya.
Mengapa Jamsostek perlu mempunyai Bank seperti CPF Singapore yang mempunyai Bank sendiri, karena saat ini Jamsostek tidak bisa menyalurkan dananya untuk peserta Jamsostek jika ingin digunakan untuk peserta jamsostek dalam memenuhi kebutuhannya seperti dana untuk Kepemilikan Rumah ,kredit motor atau untuk kredit permodalan bagi Koperasi Serikat pekerja yang mana akhirnya jika Jamsostek mempunyai Bank sendiri bisa memberikan nilai tambah bagi pesertanya.
.









