TKI dan Mahasiswa Bojonegoro Terjebak di Mesir

demo-mesir-alkhabarBOJONEGORO – Nasib 23 warga Bojonegoro hingga kini belum diketahui kabar beritanya di tengah situasi Mesir yang kian rusuh. Ke-23 warga tersebut, 3 di antaranya adalah TKI yang sudah tiga tahun ini bekerja di Kairo.

Sementara 20 lainnya adalah para mahasiswa yang sedang menimba di Universitas Al Azhar Kairo. Para mahasiswa tersebut yang rata-rata mengambil jurusan studi dan filsafat Islam itu tersebar di tingkat menengah hingga akhir.

Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Pemkab Bojonegoro kesulitan melakukan pendataan ikhwal ke-3 TKI tersebut. Keberadaan TKI asal Bojonegoro ini terlacak dari daftar pengiriman uang yang selama ini dilakukan. Hanya saja, ke-3 TKI itu dipastikan berangkat secara ilegal.

Kepala Disnakertransos Pemkab Bojonegoro, Maftuh, mengatakan resmi pihaknya tidak pernah mengirimkan TKI ke Mesir. “Tapi, dari data reminten yang kami terima ada tiga kali pengiriman uang dari Mesir sejak tiga tahun terakhir ini,” katanya.

Diungkapkan Maftuh, kiriman per tahun selama tiga kali itu berasal dari 3 orang yang bekerja di sana. Meski demikian pihaknya tidak bisa mengetahui secara rinci warga asal kecamatan mana, kepada siapa, dan pada sektor apa dia bekerja.

“Karena, itu merupakan otoritas perbankan,” kata Maftuh..

Apalagi, lanjut dia, sejuah ini belum ada pihak keluarga yang datang ke instansinya yang meminta infomasi kejelasan nasib kerabatnya di Mesir.

Nasib sama juga hampir pasti dialami sedikitnya 20 mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Bojonegoro yang hingga kini masih bertahan di Mesir. Tak pelak membuat resah.

Sementara, situasi Mesir saat ini makin bergolak. Sisi lain, pihak keluarga mengalami kesulitan menghubungi mereka yang berangkat ke Mesir guna menimba ilmu di Universitas Al Azhar.

Solihin, salah seorang alumni lulusan Universitas Al Azhar, memaparkan saat ini sedikitnya ada 20 mahasiswa dari Kabupaten Bojonegoro yang belajar di Mesir. Sebagian mahasiswa itu tinggal di Kairo, Alexandria, dan kota lainnya di Mesir.

Dikatakan dia, saat berada di Mesir ke-20 mahasiswa asal Bojonegoro sering berkumpul dan memiliki komunitas. Sebagian mahasiswa asal Indonesia yang berada di Mesir itu tinggal di asrama dan kos. Solihin sempat belajar di Al Azhar selama lima tahun sejak 2004.

Sementara, Abdillah, salah satu kerabat mahasiswa yang belajar di Mesir, mengimbuhkan adiknya atas nama Uun Nasikhun sampai saat ini masih bertahan di Mesir. Uun belajar di Universitas Al Azhar mengambil jurusan Ushuluddin.

“Adik saya sudah empat tahun kuliah di Mesir,” terang lelaki yang tinggal di Desa Kedungrejo, Kecamatan Baureno, Bojonegoro ini. Keluarga terakhir kali melakukan kontak melalui telepon Uun tiga hari yang lalu.

Kala itu, dia mengabarkan situasi di Mesir masih mencekam karena demonstrasi dan aksi penjarahan terjadi di mana-mana. Tapi, kondisi dia bersama mahasiswa asal Indonesia lainnya cukup aman. Sayangnya, komunikasi itu terputus begitu saja sebelum Abdillah berusaha menggali informasi lebih jauh, termasuk memastikan proses evakuasi yang saat ini tengah digencarkan pemerintah Indonesia.

“Yang membuat kami makin gelisah, karena sejak saat itu dia sudah tidak bisa dihubungi lagi. Berkali-kali dihubungi teleponnya mati,” ungkap Abdillah.