maiwanews – Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso mengatakan, tidak logis jika penyuap tidak ada tapi yang disuap ada dalam kasus pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS-BI) Miranda Gultom.
“Sampai hari ini sumber penyuap tidak jelas. Nggak logis, kenapa penyuapnya tidak ada, lalu yang disuap ada,” kata Priyo kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan Jakarta, Selasa 8 Februari 2011.
Politisi Parta Golkar itu mengaku kecewa atas sikap KPK yang sudah menahan 25 anggota DPR periode 1999-2004, namum belum juga menyentuh si pemberi suap. “Mengecewakan kita karena terjadi ketidakadilan”, kata Priyo.
Padahal menurutnya, kekuasaan KPK untuk menangkap orang besar sekali. Bahkan, lanjutnya, lembaga yang diketuai oleh Busyro Muqoddas itu, bisa mengetahui gerak-gerik semua target-targetnya.
“Jadi aneh, kalau tidak mengetahui keberadaan si Ini dan si Itu, Itu teoritis. Saya tidak hanya bicara Nunun (Nurbaeti). Tapi, ini memang tidak masuk akal,” katanya lagi.
Sebelumnya, politisi senior Partai Golkar, Fahmi Idris mengatakan kepada wartawan di kediamannya bahwa Nunun Nurbaeti saat ada di Bangkok, Thailand dan dalam keadaan sehat wal’afiat. Fahmi mengaku memiliki bukti soal keberadaan Nunun tersebut.
Namun mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Adang Daradjatun yang juga suami Nunun mengatakan, pernyataan mantan Menteri Perindustian itu merupakan pembunuhan karakter terhadap istrinya.
Apalagi, dokter yang menangani Nunun kembali meyakinkan di depan wartawan bahwa pasiennya itu benar-benar sedang mengidap penyakit lupa akut yang disebabkan cairan di kepala yang semakin menumpuk.
Untuk mengobati sakit tersebut, kata Dokter, Nunun disarankan banyak beraktivitas, termasuk jalan-jalan.









