maiwanews – Pelajar di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek) ternyata cenderung setuju menempuh jalan aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah yang berlatar belakang agama dan moral.
Fenomena tersebut terungkap dari hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LKIP) selama periode bulan Oktober 2010 hingga Januari 2011.
Menurut Direktur Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian, Bambang Pranowo, 49 persen siswa setuju aksi radikal. Sikap radikal dan tidak toleran itu tak hanya dimiliki para siswa, tapi juga oleh para guru agama.
Bambang mengungkapkan, survei tersebut dilakukan terhadap 1.000 siswa dari 59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri. Yang menarik, tidak ada satu pun sekolah madrasah yang diambil jadi sampel itu.
Selain melakukan survei terhadap siswa, Lembaga Kajian Islam ini juga melakukan survei terhadap 600 orang guru agama. Ia juga mengungkapkan, para pelajar dan guru agama menganggap, Pancasila sudah tidak relevan lagi sebagai dasar negara.
“Ketika ditanya tentang terkait dengan penyelesaian masalah-masalah keagamaan, memang mereka setuju dengan penggunaan cara-cara kekerasan. Ketika ditanya tentang tokoh semacam Imam Samudera melakukan pengeboman, ternyata mereka banyak mendukung,” kata Bambang.
Bambang menambahkan, dari hasil survey yang dilakukan itu terungkap, sentimen semcam itu juga dirasakan oleh para guru agama.
Atas adanya kecenderungan ini, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, memastikan akan melakukan pengawasan berjenjang terhadap para siswa dan guru termasuk mengubah pola pengajaran agama di sekolah.
Sebelumnya, MUI menyerukan kepada pemuda Indonesia untuk tidak terpancing oleh ajakan jihad dalam arti sesat yang dilakukan oleh para teroris. Wakil Ketua Komisi Fatwa dan Hukum MUI, Anwar Ibrahim, mengatakan jihad dengan melakukan pengeboman adalah salah karena Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan.
MUI, kata Anwar, akan terus memberikan pemahaman kepada masyarakat di seluruh penjuru Indonesia terkait arti jihad yang sebenarnya, sehingga masyarakat tidak akan mudah terpancing oleh ajakan teroris itu. “Kita selalu menghimbau pemuda-pemuda jangan cepat-cepat terpancing oleh ajakan-ajakan yang akan membuat timbulnya rasa tidak aman dalam masyarakat,” ujar Anwar.
Sementara Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar meminta masyarakat untuk terus mewaspadai pergerakan teroris. Pihak kepolisian, kata Boy Rafli, sangat mengharapkan adanya peranan dari tokoh-tokoh agama maupun tokoh masyarakat.
Para tokoh itu katanya, diharapkan perannya dalam meluruskan pemahaman-pemahaman yang menyimpang tentang jihad, sehingga masyarakat termasuk anak-anak muda tidak mudah menjadi bagian dari kelompok teroris.
“Peranan dari tokoh masyarakat, tokoh agama betul-betul sangat diharapkan untuk ikut serta didalam meluruskan pemahaman-pemahaman yang kita duga agak menyimpang, sehingga menimbulkan niat, timbulnya aksi,” kata Boy. (voa/ylh)









