Lingkungan Dirusak, Walhi Surati Bupati Aceh Selatan

emasPembuangan limbah merkuri di sembarang tempat oleh penambang tradisional di Aceh Selatan memberi dampak buruk bagi lingkungan hidup di wilayah itu. Meski diakui bahwa kegiatan penambangan di satu sisi memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat.

Matinya sejumlah pohon kelapa dan rumbia di Desa Kampung Baru Kecamatan Labuhan Haji, serta ikan peliharaan di Desa Alue Meutuah Meukek diduga akibat limbah merkuri. Bahkan sebelum Ramadhan lalu dua ekor ternak kerbau milik warga di Kecamatan Sawang, masing-masing seekor di Desa Meuligo dan seekor lagi di Desa Tring Meuduro, mati.

Hal itu tertuang dalam surat WALHI Aceh kepada bupati Aceh Selatan beberapa waktu lalu terkait penendalian pencemaran serta kerusakan lingkungan hidup. Dalam surat itu disampaikan juga bahwa pembuangan limbah merkuri bahkan dilakukan di daerah pantai dan kawasan pemukiman padat. Hal itu dinilai sangat berpotensi sekali merusak kesehatan masyarakat baik melalui kontak langsung dengan merkuri maupun melalui media air yang disebabkan oleh hujan dan air laut.

Jika limbah merkuri mencemari laut maka akan sangat mungkin menyebar ke daerah yang lebih luas, disamping itu ikan-ikan hasil tangkapan nelayan di daerah tersebut juga akan tercemar. Bila ikan tercemar dikonsumsi oleh manusia maka kandungan merkuri yang ada dalam ikan tersebut akan tinggal di dalam tubuh manusia dan merusak kesehatannya secara pelan-pelan namun pasti. Seperti kita ketahui bahwa merkuri adalah salah satu bahan yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Mengantisipasi kemungkinan buruk akibat pencemaran lingkungan, WALHI Aceh dalam suratnya meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Selatan agar bertindak tegas terhadap persoalan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pemanfaatan Sumberdaya Alam (SDA) yang merusak dan mengundang bencana dan kerugian yang tidak sebanding dengan manfaat yang didapat oleh masyarakat Aceh Selatan. (Foto ilustrasi: emas oleh Covilha)