Tanggal 26 Desember bukan sekedar rutinitas tapi mengingatkan kita pada hari itu ada sesuatu mulai berubah setelah penderitaan panjang. Tsunami harus menjadi cambuk. Satu sisi mengenang yang pergi akibat tsunami tapi sisi lain, yang hidup memakrifati tantangan setiap tahunnya.
Implikasi dari tsunami adalah berakhirnya konflik berdarah puluhan tahun. Dua peristiwa itu mesti dipaksa ingat dan mesti menjadi kalender khusus. Menyambung ungkapan Dosen Fakultas Hukum Unsyiah tersebut, Teuku Ridha Fahmi, seorang guru sekolah menengah atas, menyatakan kalender khusus satu kebutuhan untuk mengantisipasi krisis sosial lebih dalam. Fahmi melihat pasca tsunami muncul intelektualisme luar biasa sebagai manifestasi kebangkitan.
Namun spritualitas menurutnya semakin lemah. Intelektualisme dan spritualisme dua hal tak terpisahkan untuk memoralkan kehidupan. Katanya, intelektual yang berlandaskan spritual akan lahir aktualisasi sosial atau gerakan sosial yang istiqamah terhadap perubahan. Demikian mantan aktivis BEM IAIN Ar-Raniry ini merefleksi penuh semangat.
Seterusnya Herman, aktivis Proodelat, katanya belum mampu merefleksikan duka, kesedihan, kepanikan dan frustasi melihat mayat-mayat bergelimpangan tujuh tahun lalu. Ia khawatir cerita dan kisah yang muncul sekarang dalam kenyataannya dipandang imajimer generasi sesudah kita. Dalam faktanya banyak lokasi tsunami tidak diselamatkan sebagai “situs tsunami” agar generasi selanjutnya tidak mengira cerita dan kisah tsunami itu dibuat-buat dan mengharubirukan.
Cerita kita benar adanya tapi logika anak cucu kita belum tentu dapat memahami ada korban diselamatkan ular, kerbau atau oleh hal-hal aneh lainnya. Suatu saat jika ditanya mana lokasi tsunami, maka saat kita tunjuk, mungkin mereka tidak akan percaya, sebab faktanya sepuluh atau dua puluh tahun ke depan di lokasi itu sudah dibangun rumah dan gedung-gedung mewah.
Menurut Herman, generasi setelah kita belum tentu percaya bahwa diantara 109 tsunami pernah terjadi di dunia, Aceh paling parah dan besar sekali dampaknya dalam sejarah tsunami dengan fakta-fakta yang dilihat kemudian, sebabnya tidak ada ciri khasnya. Kalaupun ada seperti PLTD Kapal Apung, itupun sudah dimodifikasi, katanya. Kendati begitu, ia meminta berbagai keajaiban perlu ditulis disamping sisa-sisa tsunami yang masih ada. Beberapa lokasi menurutnya perlu diselamatkan secara orisinil sebagai situs tsunami.
Terakhir, Taufik Abdullah Dosen Fisip Unimal yang hadir memandu diskusi refleksi tujuh tahun tsunami ini mengamini semua pandangan peserta diskusi. Katanya, Aceh suatu saat akan tetap menjadi tempat kenangan penuh tragedi, karena disini ada konflik dan tsunami yang mengusik kemanusiaan, maka caranya Aceh betul-betul harus menjadi tempat riset “bencana tsunami”, “wisata tsunami” dan riset “rekonstruksi perdamaian” yang berharga. Usaha-usaha untuk itu sudah berlangsung beberapa tahun terakhir tapi belum maksimal.
Dalam refleksi itu secara mendasar Pemerintah dinilai belum mampu membentuk badan khusus kajian dan penelitian tsunami. Diharapkan pemerintah lebih serius menjadikan Aceh sebagai tempat “kunjugan dan pelajaran masyarakat dunia“.
Dinilai pula pemerintah belum mampu mempromosikan tsunami sebagai modal kebangkitan dan pembangunan. Hikmah tsunami yang luar biasa itu tidak sepenuhnya diartikulasikan secara maksimal sebagai modal sosial kebangkitan yang sesungguhnya dan berbuat lebih baik. Karena itu, diakhir diskusi ini Taufik Abdullah berpendapat perlu ada introspeksi total, agar secara radikal transformasi tsunami menemukan roh dan maknanya yang senantiasa dihidupkan setiap tahunnya.
Posted with WP for BlackBerry.









